Albert Bandura

Albert Bandura

Albert Bandura

SEJARAH SINGKAT

Bandura lahir 4 Desember 1925 di Mundare, sebuah kota kecil di Alberta, Canada. Dia mendapatkan gelar B.A dari University of British Columbia dan M.A tahun 1951 dan Ph.D 1952, keduanya dari University of Lowa.

EARLIER EXPLANATIONS OF OBSERVATIONAL LEARNING

Keyakinan bahwa makhluk hidup belajar dengan mengobservasi makhluk hidup lain telah ada sejak awal jaman Yunani misalnya Plato dan Aristoteles. Menurut penjelasan nativistic, kecenderungan observational learning adalah bawaan sejak lahir.

Thorndike adalah orang pertama yang mempelajari observational learning  secara eksperimental. Pada tahun 1898, dia meletakkan seekor kucing pada puzzle box dan kucing lain di box disampingnya. Kucig dalam puzzle belajar bagaimana melarikan diri, sehingga kucing kedua hanya mengobservai kucing pertama mempelajari respon melarikan diri. Ketika kucing kedua diletakkan di puzzle box dia tidak menunjukkan respon melarikan diri. Kucing kedua tetap melakukan trial and error seperti yang dilakukan kucing pertama sebelum berhasil melarikan diri. Thorndike melakukan eksperimen yang sama dengan ayan dan anjing dan hasil yang didapatkan sama. Tidak masalah berapa lama hewan “naïf” melihat hewan “ahli”, hewan “naïf” terlihat tidak mempelajari apapun. Tahun1901 dia melakukan eksperimen dengan monyet tetapi hasilnya sama. Kemudian dia menyimpulkan, bahwa tidak satupun dari eksperimennya dengan hewan membuktikan hipotesis bahwa mereka mempunyai general ability untuk belajar melakukan sesuatu dari melihat yang lainnya melakukannya.

1908, Watson mengulangi penelitian Thorndike dengan monyet , dan ia juga tidak menemukan bukti observational learning. Thorndike dan Watson menyimpulkan bahwa belajar hanya dihasilkan dari direct experience bukan dari indirect or vicarious experience. Dengan kata lain, mereka merasa bahwa belajar muncul sebagai hasil dari interaksi personal dengan lingkungan dan bukan hasil dari mengobservasi interaksi individu lain.

 

Miller and Dollard’s Explanation of Observational Learning

Tidak seperti Thorndike dan Watson, Miller dan Dollard tidak menolak fakta bahwa organisme dapat belajar dengan mengobservasi interaksi organisme lain. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku imitasi yang direinforce, akan menjadi kuat seperti tingkah laku lain. Dollard dan Miller membagi tingkah laku imitasi menjadi tiga kategori

  1. Tingkah laku yang sama muncul ketika dua atau lebih respon individu berada pada situasi dan cara yang sama. Sebagai contohnya kebanyakan orang yang berhenti di lampu merah akan bertepuk tangan jika sebuah konser telah selesai dan tertawa ketika yang lainnya tertawa.
  2.   Copying behavior meliputi panduan tingkah laku seseorang oleh orang lain, seperti ketika instruktur memberi arahan kepada murid-murid yang berusaha menggambar. Dengan copying behavior, respon akhirnya akan dikuatkan dan direnforced.
  3. Mached-dependent behavior, observer akan direinforce dengan melakukan pengulangan tingkah laku model. Sebagai contohnya tingkah laku seorang kakak berjalan mendekati pintu ketika dia mendengar suara langkah kaki sang ayah yang menuju pintu dan ayah mereinforce kakak dengan permen. Dan adiknya menemukan bahwa ketika dia berjalan di dekat kakaknya dia juga menerima permen dari ayahnya. Bagi kakak, suara langkah kaki ayah akan memicu respon berjalan, yang dikuatkan dengan permen. Bagi sang adik, tanda darikakaknya yang berjalan menuju pintu memicunya untuk berjalan, dan dia juga dikuatkn dengan permen.

Tingkah laku ini juga terlihat pada remaja yang berada di situasi yang tidak familier. Ketika kita berada di Negara asing kita akan mengobservasi bagaimana respon alami diberbagai situasi dan kemudian kita akan merespon seperti yang mereka lakukan.

Mereka juga menekankan bahwa imitasi dapat menjadi sebuah kebiasaan. Seperti kasus adik dan kakak tadi, probabilitas tingkah laku sang adik meniru kakaknya akan meningkat diberbagai macam situasi. Mengacu pada hal diatas, kecenderungan untuk mengimitasi tingkah laku satu individu atau lebih sebagai generalized imitation.

Mereka melihat tidak ada yang special dari belajar imitasi. Bagi mereka, peran model adalah memandu respon observer sampai tepat atau mendemonstrasikan pada observer.mana respon yang akan direinforce pada situasi tertentu. Bagi mereka belajar imitasi adalah hasil dari observasi, overt responding, dan reinforcement. Mereka setuju dengan kesimpulan Thorndike dan Watson. Mereka menemukan bahwa organism belajar bukan hanya dari observasi semata. Menurut mereka, kesalahan dari eksperimen Thorndike dan Watson adalah bahwa keduanya tidak meletakkan hewan yang “naïf” dan yang ahli dalam satu kotak.penempatan itu akan membuat hewan “naïf” mengobservasi, merespon dan direinforced, dan mungkin belajar imitasi akan muncul.

 

BANDURA’S ACCOUNT OF OBSERVATIONAL LEARNING

Menurut Bandura, Observational Learning bisa meliputi imitasi ataupun tidak. Sebagai contohnya saat kita melintasi sebuah jalan kemudian disamping kita ada mobil yang masuk jurang, dan berdasarkan proses belajar observasi itu kita akan membelokka mobil untuk menghindari jurang. Dalam kasus ini, kita belajar dari proses observasi kita, tetapi kita tidak mengimitasi apa yang kita oservasi. Yang kita pelajari meurut Bandura adalah informasi, dimana terjadi proses kognitif dan kita akan melakukan sesuatu yang berguna. Observasional learning lebih kompleks dari pada simple imitasi.

Teori belajar yang dekat dengan konsep Bandura adalah Tolman theory. Mereka percaya bahwa proses belajar merupakan proses yang konstan yang tidak membutuhkan reinforcement.

Teory belajar Bandura didemonstrasikan dalam eksperimennya. Anak ditunjukkan sebuah film dimana modelnya yang ditunjukkan memukul, menendang boneka. Dalam teory Bandura model dapat berupa apa saja yang membawa informasi, seperti orang, film, televise, gambar, instruksi. Pada kelompok pertama anak melihat model diberi reinforce atas keagresifitasan mereka. Pada kelompok kedua anak melihat model di hokum atas keagresifitasan mereka. Pada kelompok ketiga konsekuensi dari keagresifitasan model di netralkan, tidak direinforce maupun dihukum. Yang diharapkan, adalah bahwa anak pada kelompok pertama akan menunjukkan agresifitas tertinggi, kelompok kedua akan menunjukkan keagresivitasan terendah dan kelompok ketiga berada diantaranya. Yang menarik adalah bahwa tingkah laku anak dipengaruhi oleh indirect experience atau vicarious experience. Dengan kata lain apa yang diobservasi anak dari orang lain akan mempengaruhi tingkah lakunya. Ini kontra dengan Miller dan Dollard yang menyatakan bahwa belajar observasi hanya akan muncul jika tingkah laku overt organism diikuti reinforcement.

Anak ditawari intensive untuk mereproducing tingkah laku model, dan semua anak melakukannya. Dengan kata lain semua anak belajar respon agresif model tetapi mereka menunjukkannya dengan berbeda, tergantung apa yang mereka observasi apakah model direinforced, di beri hukuman, atau konsekuensi yang netral.

Kemudian Bandura dengan tegas tidak setuju dengan pendapat Miller dan Dollard tentang observational learning. Bagi Bandura, observational learning muncul disemua waktu. Setelah perkembangan kapasitas belajar observasi berkembang penuh, individu tidak dapat membatasi orang untuk belajar dari apa yang mereka lihat. Belajar observasi juga tidak membutuhkan respon yang tampak ataupun reinforcement.

The Skinnerian Analysis of Observational Learning

Penjelasan Skinner tentang Observasional Learning sama dengan apa yang dikatakan Miller dn Dollard. Pertama tingkah laku model diobservasi, kemudian observer mencocokkan tingkah laku model, dan terakhir respon yang cocok direinforce. Bandura menemukan beberapa hal yang tidak benar. Pertama mereka tidak dapat menjelaskan bagaimana tingkah laku dapat muncul ketika baik observer maupun model tidak diberi penguat. Kereka tidak menjelaskan adanya delayed modeling. Ketiga tentang reinforcement yang secara otomatis akan memperkuat tingkah laku, menurut Bandura, observer harus menyadari reinforcement sebelum reinforcement itu mempunyai efek. Karena belajar dengan konsekuensi membutuhkan proses kognitif, konsekuensi secara umum mengubah sedikit tingkah laku yang komplek ketika tidak ada kesadaran apa arti reinforcemen. Secara singkat, Bandura mengatakan bahwa penjelasan analisis operan tentang beajar observasi salah. Tidak ada discriminative stimulus, tidak ada overt responding, dan tidak ada reinforcement.

NONHUMANS CAN LEARN BY OBSERVING

Dibeberapa penelitian ditemukan data yang mengejutkan bahwa non humans dapat belajar secara cukup kompleks dengan mengobservasi anggota lain dalam species nya. Studi yang dipelopori oleh Nicole dan Pope (1993) mengobservasi ayam yang dipasangkan dengan ayam “demonstrator” .

 

VARIABLES AFFECTING OBSERVATIONAL LEARNING

Attentional Processes

Sebelum sesuatu dipelajari dari sebuah model, model harus diperhatikan. Dalam pemikiran Bandura, belajar merupakan proses yang tanpa henti, tetapi poinnya adalah bahwa hanya apa yang kita observasi yang dapat kita pelajari. Pertanyaan yang muncul adalah, apa yang ditekankan?

  1. Kapasitas sensori seseorang akan dipengaruhi proses perhatian. Stimulus modeling yang digunakan untuk mengajari orang yang buta, tuli akan berbeda dengan yang digunakan kepada orang dengan pendengaran dan pengelihatan normal.
  2. Perhatian selektif observer dapat dipengaruhi oleh past reinforcement. Dengan kata lain, prior reinforcement dapat membentuk persepsi observer yang akan mempengaruhi observasi yang akan datang.
  3. Variasi karakteristik model juga akan mempengaruhi apa yang akan mereka perhatikan. Menurut Bandura, orang akan memperhatikan model yang dianggap berguna dan mengabaikan orang yang diasumsikan tidak berguna. Orang lebih suka memilih model yang pandai menghasilkan good outcome dari pada yang berulang kali mendapat hukuman.

Retentional Processes

Informasi panduan yang digunakan dalam observasi harus disimpan. Penyimpanan informasi secara simbolis dengan dua cara, imaginally dan verbally. Imaginally store symbol adalah penyimpanan gambaran actual dari pengalaman model dan dapat diretrieved dan dilakukan beberapa lama setelah proses belajar berlangsung.ini juga merupakan poin kesepakatan antara Bandura dan Tolman. Menurut Bandura tingkah laku menekankan gambaran mental dari pengalaman masa lalu; Tolman mengatakan bahwa tingkah laku dipengaruhi oleh cognitive map. Tidak mungkin memisahkan antara symbol imaginal dan verbal, keduanya tidak terpisahkan ketika kejadian terreprensentasikan di memori. Ketika stimulus verbal dan visual memiliki arti yang sama, individu akan mengintegrasikannya menjadi representasi konsep umum.

Informasi yang tersimpan secara cognitive, dapat diretrieved secara covert, rehearsed, dan dikuatkan jauh setelah proses belajar terjadi. Penyimpanan symbol ini yang memungkinkan delayed modeling.

Behavioral Production Processes

Proses ini menekankan tingkat dimana apa yang dipelajari dapat iartikan dalam tingah laku (performansi). Sebagai contohnya mengobservasi monyet yang bergelantuangan dari satu pohon ke pohon lain, tetapi makluk lain tidak dapat mereplikasinya jika dia tidak memiliki ekor seperti monyet. Dengan kata lain, individu mungkin dapat belajar sesuatu yang besar dalam cognisinya tetapi tidak mampu untuk mengartikan informasi itu ke dalam tingkah laku yang mungkin dikarenkan terebatasan, sakit, level perkembangan.

 

Motivational Processes

Dalam teori Bandura, reinforcemen mempunyai dua fungsi utama. Pertama reinforcement akan membentuk sebuah harapan bagi observer jika dia melakukan sesuatu dengan cara dan situasi tertentu, mereka akan direinforced. Kedua proses motivasi, yang akan member motiv untuk menggunakan apa yang dipelajari (mengartikan belajar ke dalam performasi).

Kesimpulannya, dapat dikatakan bahwa belajar observasi meliputi perhatian, retensi, kemampuan tingkah laku dan intensif. Jika belajar observasi gagal muncul, ini dapat dikarenakan observer tidak mengobservasi tingkah laku yang relevan dari model, tidak menyimpannya, adanya ketidakmampuan secara fisik untuk menampilkannya, tidak memiliki intensive yang pantas untuk melakukannya.

 

RECIPROCAL DETERMINISM

Pertanyaan dasar dalam psikologi adalah “mengapa orang bertingkah laku seperti yang mereka lakukan?”. Bandura menjawab pertanyaan ini bahwa individu, lingkungan dan tingkah laku itu sendiri berinteraksi untuk menghasilkan tingkah laku individu. Dengan kata lain, ketiga komponen itu tidak ada yang diisolasi dari yang lain dalam menerangkan tingkah lak individu. Ketiga interaksi itu adalah sebagai berikut :

B

P                                              E

Pola ini dinamakan reciprocal determinism. Kesimpulannya tepat untuk mengatakan bahwa tingkah laku dipengaruhi individu dan lingkungan seperti lingkungan atau individu mempengaruhi tingkah laku.

Sebagai contoh tingkah laku yang dipengaruhi lingkungannya, Bandura mendiskribsikannya pada eksperimen dimana shock terjadwal yang diterima tikus setiap menit kecuali bila dia menekan balok, dimana pemberian shock akan ditunda 30 detik. Tikus belajar menekan balok dengan frekuensi tertentu untuk menghindari shock, tikus yang gagal mempelajari respon itu harus mengalami periodic shock. Apakah lingkungan mengontrol tingkah laku ataukah tingkah laku mengontrol lingkungan? Yang kita miliki adalah 2 sistem pengaturan dimana organism baik sebagai objek maupunagen dari control, tergantung proses reciprocal yang dipilih.

Aspek-aspek di lingkungan akan ditekankan oleh bagaimana kita bertingkah laku di dalam lingkungan. Lebih jauh Bandura menyatakan bahwa tingkah laku dapat membentuk lingkungan.

Menurut bandura orang dapat mempengaruhi lingkungan dengan brtindak dalam cara tertentu dan akan mengubah lingkungan, pada gilirannya akan mengubah tingkah laku berikutnya. Meskipun disana ada interaksi diantara orang, lingkungan, dan tingkah laku, beberapa komponen itu akan lebih berpengaruh dari pada komponen lain di waktu tertentu. Sebagai contoh, suara keras di lingkungan dapat lebih bereffek terhadap tingkah laku orang pada yang lain. Di waktu lain mungkin kepercayaan menjadi factor yang paling berpengaruh dalam tindakan. Dalam faktanya banyak penelitian yang menunjukkan bahwa tingkah laku mahkluk hidup lebih diperintah oleh apa yang mereka yakini dari pada apa yang benar-benar terjadi.sebagai contohnya pada penelitian diterapkan pemberian reinforce sekali tiap menitnya (variable-interval schedule) untuk memberi respon manual. Walaupun semua subyek diberi jadwal yang sama namun beberapa terjadi kesalahan dalam pemahaman mereka. Suatu kelompok menyatakan variable-interval schedule (rata-rata diantara dua kelompok), kelompok lain menyatakan fix-interval schedule (respon  lambat), dan variable-ratio schedule respon cepat).

Dalam eksperimen partisipan diberi informasi yang salah, mereka mempercayainya dan melakukannya. Beberapa factor dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membentuk kepercayaan yang nonadaptive dalam individu, yang dapat memicu tindakan yang tidak efektif dan bizarre.

Sebagai kesimpulannya, konsep Bandura tentang reciprocal determinism adalah bahwa tingkah laku, individu a9dengan kepercayaannya), lingkungan semua berinteraksi dan ketiga cara intraksi harus dipahami sebelum memahami bagaimana tingkah laku dan fungsi psikologis dapat muncul.

 

SELF-REGULATION OF BEHAVIOR

Menurut Bandura, jika tindakan menekankan semata-mata pada external reward dan punishment, orang akan bertingkah laku seperti contoh, pergantian yang konstan dalam arahan yang berbeda untuk menyesuaikan diri

Bagaimana jika eksternal reinforce dan punishment tidak  mengontrol tingkah laku? Bandura menyawab, bahwa tingkah laku menusia secara luas akan dilakukan secara self-regulated. Pengalaman manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi standar evaluasi. Satu dari standar itu akan menjadi dasar self-evaluasi. Jika tingkah laku orang di situasi tertentu sesuai dengan standar, akan dievaluasi secara positif, jika jauh dari standar akan dievaluasi negative.

Standar seseorang dapat berasal dari pengalaman langsung dengan reinforcement dari dari tingkah lakunya, misalnya rasa bangga dari orang tua. Standar personal dapat di dapat secara tidak langsung melalui observasi tingkah laku orang lain yang direinforce.

Bandura percaya bahwa intrinsic reinforcement yang berasal dari self-evaluation lebih berpengaruh dari pada ekstinsik reinforcement yang dibagikan oleh individu lain.tingkah laku self-rewarded cenderung dipertahankan secara lebih efektif dari pada yang di beri external reinforced.

Ketidakberuntungan terjadi jika standar dari performasi terlalu tinggi, hal itu akan menjadi dasar dari personal distress. Bandura menyatakan standar evaluasi yang terlalu ekstrem akan menjadikan reaksi yang defensive, perasaan tidak berharga, tidak memiliki tujuan. Bekerja dengan tujuan yang terlalu jauh dan terlalu sulit akan mengecewakan. Sub tujuan dengan kesulitan yang moderat akan menjadi motivasi dan memuaskan.

Seperti internalisasi standar performasi, persepsi self-efficacy, sangat berperan dalam self-regulated behavior. Persepsi self efficacy merujuk pada kepercayaan yang berfokus pada apa yang seseorang mampu lakukan, dan inimuncul dari berbagai sumber termasuk keberhasilan dan kegagalan personal, melihat orang lain yang setara dan persuasi verbal.

Orang dengan persepsi self-eficacy yang tinggi cenderung berusaha lebih, berprestasi lebih, dan tetap melakukan tugas yang panjang dari pada yang memiliki self-eficacy yang rendah. Karena orang dengan self-efficacy yang tinggi cenderung untuk mengontrol kejadian-kejadian di lingkungan dan melakukan sesuatu dengan keberanian.

Persepsi seseorang tentang self-efficacynya kadang tidak sesuai dengan real-self efficacy. Situasi yang terbaik adalah jika persepsi mereka sesuai dengan kemampuan mereka.  Dengan kata lain, jika seseorang melakukan sesuatu diluar kemampuan mereka, mereka akan frustasi, mudah menyerah. Dan jika orang dengan self-efficacy yang tinggi tidak memberi tantangan pada diri mereka secara tepat maka pertumbuhan akan terhalang.

Moral conduct

Moral code berkembang melalui interaksi dengan model. Dalam kasus moral, orang tua menjadi model pengaturan dan peran moral yang diinternalisasi oleh anak.

Bandura menekankan bahwa tingkah laku itu tidak konsisten, lebih dipengaruhi oleh ingkungan. Dengan kata lain tingkah laku lebih ditentukan oleh situasi dimana dia berada an persepsinya terhadap tingkah laku itu dari pada oleh tahap-tahap perkembangan, oleh sifat atau tipe seseorang.

  1. Moral Justification

Suatu tindakan yang salah menjadi bernilai lebih tinggi dan dapat dibenarkan.

  1. Euphemistic Labeling

Menunjukkan sesuatu yang patut dicela dengan sesuatu yang lain, dimana seseorang dapat bertingkah laku tanpa rasa rendah (self-contempt). Sebagai contohnya, orang yang tidak agresif dapat menjadi agresif kepada orang lain melalui game. Contoh yang lain adalah “soldier ‘waste’ people dari pada ‘kill them’.

  1. Advantangeous Comparison

Membandingkan tindakan yang menyebabkan self-deplored (penyesalan) dengan tindakan yang lebih mengerikan atau lebih keji, ini membuat tindakan yang reprehensible (patut dicela) terlihat remeh.

  1. Displacement of Responsibility

Melalui pemindahan tanggung jawab, seseorang dapat siap untuk meninggalkan prinsip moral jika mereka mereka merasa tingkah laku mereka akan menimbulkan sangsi atau persetujuan dengan kekuasaan. Sebagai contohnya tingkah laku staff Nazi yang inhumanity hanya tidak dirasakan sebagai tanggung jawab pribadi, karena mereka hanya menjalankan perintah.

  1. Diffusion of Responsibility

Keputusan untuk melakukan tindakan yang patut dicela yang dilakukan oleh kelompok itu lebih mudah dari pada keputusan individual. Dimana tanggung jawab individu dengan adanya pengaburan tanggung jawab maka tidak ada single tanggung jawab.

  1. Disregard or Distortion of Consequences

Orang mengabaikan dampak bahaya dari tindakan mereka sehingga mereka tidak merasakan penyesalan. Lebih jauh lagi, orang memindahkan dirinya dari dampak yang menyakitkan dari tindakan immoral mereka, menuju ke tekanan yang lebih rendah.

  1. Dehumanization

Jika seseorang terlihat sebagai subhuman, mereka dapat berberilaku inhumanly tanpa rasa bersalah.

  1. Attribution of Blame

 

Determinism versus Freedom

Apakah fakta yang menunjukkan bahwa tingkah laku adalah self-regulated berarti individu bebas melakukan apa yang mereka pilih? Bandura mendifinisikan kebebasan dalam artian sejumlah pilihan tersedia yang mungkin untuk orang dan kesempatan mereka untuk melakukannya. Ketidakleluasaan kebebasan individu meliputi incompetence, ketakutan yang tidak beralasan, excessive self-censure (celaan pada diri sendiri yang berlebihan), dan penghalang social seperti diskriminasi dan prasangka.

Kemudian di lingkungan yang sama beberapa individu lebih merasa bebas dari pada yang lain. Ketidakleluasaan lain dalam kebebasan individu dapat berasal dari kegagalan proses kognitif, dimana dapat mencegah orang berinteraksi secara efektif dengan lingkungan mereka.

 

FAULTY COGNITIVE PROCESSES

Bandura menyatakan betapa pentingnya proses kognitif dalam menentukan tingkah laku mahkluk hidup. Bagaimana individu menginternalisasi standar moral, mempercepsi self efficacy dan moral code sangat berperan dalam tingkah laku self-regulasi.  Bukti lain adalah fakta bahwa kita membayangkan diri kita di di kondisi emosi tertentu yang kita harapkan. Dan tingkah laku sangat dipengaruhi oleh imajinasi kita.

Jika proses kognitif tidak akurat dengan kenyataan maka akan menghasilkan tingkah laku yang maladaptive.  Bandura member beberapa jawaban atas perkembangan proses kognitif yang salah. Pertama mereka membangun keyakinan yang salah dari kecenderungan untuk mengevaluasi sesuatu berdasarkan penampilannya. Contohnya gelas kimia yang tinggi dan sempit memuat air lebih banyak dari pada yang kecil, pendek, karena bagi mereka lebih panjang berarti lebih besar. Kedua kesalahan pemikiran dapat berasal dari informasi yang mempunyai bukti yang tidak cukup bukti. Ketiga, pemikiran dapat berasal dari kesalahan pemrosesan informasi. Selain itu dari informasi yang benar juga ada kemungkinan dihasilkan kesimpulan yang salah. Sebagai contohnya, orang kulit hitam lebih banyak yang menganggur dari pada orang kulit putih kemudian kita menyimpulkan kesimpulan yang salah bahwa orang kulit hitam lebih tidak termotivasi dibandingkan orang kulit putih.

 

PRACTICAL APPLICATIONS OF OBSERVATIONAL LEARNING

What Modeling Can Accomplish

Modeling telah ditemukan sebagai dampak bagi observer. Respon yang baru dapat dihasilkan dari melihat model direinforced untuk tingkah laku tertentu. Kemudian acquisition tingkah laku muncul dari vicarious reinforcement. Respon akan terhalangi jika model di punished. Kemudian respon inhibition dihasilkan dari vicarious punishment. Melihat model dapat melepaskan diri dari ketakutan tanpa mengalami efek sakit dapat mengurangi inhibitions pada observer. Pengurangan rasa takut sebagai hasil dari pengobservasian model yang tidak dihukum dalam faered activity dinamakan disinhibition. Dengan menampilakan respon, model meningkatkan kemungkinan observer menghasilkan respon yang sama, ini dinamakan facilitation. Modeling juga dapat menstimulasi creativity, yang dapat dimahirkan dengan observer mengekspos bervariasi model yang membuat observer dapat mengadopsi combinasi dari berbagai karekteristik atau gaya.

Principle or rule yang mengarahkan tingkah laku berasal dari sesuatu seperti abstract modeling dimana orang akan mengobservasi model yang menunjukkan respon yang bervariasi yang mempunyai prinsip dan aturan yang umum. Abstract modeling mempunyai tiga komponen (1) mengobservasi situasi luas yang bervariasi yang mempunyai aturan atau prinsip yang umum (2) menyimpulkan role atau prinsip dari pengalaman (3) menggunakan aturan dan prinsip dalam situasi baru.

Menurut Bandura, segala sesuatu yang dapat dipelajari dengan pengaaman langsung dapat juga dipelajari melalui pengalaman tidak langsung. Akan lebih efektif jika belajar melalui modeling dengan mengeliminasi belajar secara langsung melalui trial dan error. Observational learning sangat penting untuk perkembangan dan pertahanan hidup. Karena kesalahan itu menghasilkan cost, atau konsekuensi fatal, prospek untuk bertahan akan menyempit jika kita belajar hanya dengan konsekuensi yang cukup dari trial dan error.

Modeling in the Clinical Setting

Menurut Bandura, psychopathology merupakan hasil dari dysfungcional learning, yang disebabkan ketidaktepatan antisipasi terhadap dunia. Tugas terapis adalah memberi pengalaman yang akan

Pshychopatologist mencarikan insight atau motivasi tak sadar bagi klien mereka

Banduara dan koleganya mempelajari keefektifan modeling dalam mengatasi psikopatologi. Sebagai contohnya penelitian eksperimen dengan subyek anak-anak yang takut anjing. Kelompok eksperimen di beri modeling teman sebayanya yang berinteraksi dengan anjing yang familiar, sedangkan kelompok control tidak. Hasilnya kelompok eksperimen beberapa waktu kemudian dapat berinteraksi dengan anjing dan digeneralisasikan dengan anjing yang tidak familiar.

Bandura menyimpulkan dari direct modeling (melihat model) dan symbolic modeling (melihat model dalam film) keduanya efektif untuk mengurangi ketakutan, tetapi direct modeling lebih efektif. Kekurang efektifan symbolic modeling dapat diatasi dengan menunjukkan variasi model dari pada hanya satu model.

Penelitiannya yang terakhir membandingkan keefektifan symbolic modeling, modeling dengan partisipasi dan desentisisasi sebagai teknik mengatasi phobia. Hasilnya ketiganya efektif untuk mengatasi phobia tetapi modelin-participation paling efektif.

 

THE INFLUENCE OF THE NEWS AND ENTERTAINMENT MEDIA

Televisi, koran, gambar bergerak adalah model dimana kita bisa belajar. Tidak semua yang kita pelajari dari berita dan infotainment itu negative, walaupun kadang-kadang terjadi. Karena dengan melihat televisi menyebabkan terjadinya kesalahan proses kognitif yang pada gilirannya dapat menyebabkan tindakan kriminal. Menurut Bandura, gambaran fiksi dan non fiksi dapat mendorong pada kekerasan. Walaupun tidak semua orang yang mengekspos kek.erasa di koran dan televise menjadi  melakukan kekerasan. Begitu juga dengan sexuality. Dalam faktanya materi erotic dapat mentreat orang yang mengalami problem sexual.

SOCIAL COGNITIVE THEORY

Tolman theory menjelaskan proses belajar sedangkan Bandura lebih komprehensif. Teori Bandura disebut teori observational learning menekankan pada fakta bahwa informasi terbesar datang dari interaksi kita dengan orang lain. Teori bandura menjelaskan keunikan manusia. Teori ini mendiskribsikan dinamika proses informasi, pemecahan masalah, dan organisasi social. Proses belajar kita baik dari direct learning maupun indirect learning selalu meliputi orang lain di setting social. Dan itu menjadi dasar observasi kita dan interaksi dimana kognisi kita berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

889 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>