GANGGUAN SEKSUAL

fetis

Fetihisme – ilustrasi alakadarnya 🙂

GANGGUAN SEKSUAL

PARAFILIA

Parafilia berasal dari kata ”para” yaitu penyimoangan pada apa yang membuat orang tertarik (”philia). Mengacu pada sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual terhadap obyek yan tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Fantasi, dorongan atau perilaku harus berlangsung setidknya selama 6 bulan dan menyebabkan distress atau hendaya signifikan. Seseorang dapat memiliki perilaku, fantasi,  dan dorongan seperti yang dimiliki oleh parafilia namun tidak didiagnosis menderita parafilia jika fantasi atau perilaku tersebut tidak berulang atau bila ia tidak mengalami distress karenanya. Seorang mungkin menampilkan satu atau lebih parafilia, dan pola ini mungkin merupakan aspek dari gangguan mental lain seperti Skizifrenia, depresi atau salah satu gangguan kepribadian. Jenisnya antara lain :

  1. Fetihisme

Yaitu ketergantungan seseorang pada obyek yang tidak hidup untuk memperoleh rangsangan seksual. Pederitanya kebanyakan adalah laki-laki dan memiliki dorongan seksual yang berulang dan mendalam terhadap obyek yang tidak hidup, yang disebut fetishes (misalnya sepatu perempuan) dan munculnya fetish sangat disukai atau bahkan dibutuhkan untuk terjadinya rangsangan seksual.

Perilaku yang ditampakkan pelaku memiliki kualitas kompulsi, merupakan suatu perilaku yang tidak dibuat dan tidak bisa ditahan. Gangguan biasanya muncul pada masa remaja, meskipun mungkin fetish sudah dianggap signifikan pada masa yang lebih awal. Kebanyakan fetish menampilkan pula parafilia lainnya seperti paedofilia, sadisme, masokisme.

  1. fetihisme transfestik

adalah gangguan dimana seorang laki-laki terangsang secara seksual dengan menggunakan pakaian ataupun perlengkapan perempuan lainnya, meskipun ia masih menyadari dirnya sendiri sebagai laki-laki. Praktek transvestisme bervariasi mulai dari memakai pakaian dalam perempuan di balik pakaian konvensional hingga memakai pakaian perempuan lengkap. Fetihisme transvestik biasanya diawali dengan separuh memakai pakaian lawan jenis di masa kanak-kanak atau remaja. Para transvestik adalah heteroseksual, selalu laki-laki dan secara umum hanya memakai pakaian lawan jenis secara episodik bukan secara rutin. Di luar itu mereka cenderung berpenampilan, berperilaku dan memiliki minat seksual maskulin.

  1. pedofilia

pedofilia berasal dari kata ”pedos” (anak – yunani) adalah orang dewasa yang mempunyai kepuasan seksual melalui kontak fisik dan seksual dengan anak prapubertas yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Hasil penelitian oleh Marshall (1997) menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban bahkan lebih muda daripada batas usia yang diperbolehkan di Amerika Serikat untuk melakukan hubungan seksual. Pedofil lebih banyak diidap oleh laki-laki daripada perempuan. Meskipun sebagian besar pedofilia tidak menyakiti korbannya secara fisik, beberapa di antranya sengaja menakut-nakuti si anak dengan misalnya membunuh hewan peliharaan si anak dan mengancam akan lebih menyakitnya jika si anak melapor pada orang tua. Kadang pedofil senang membelai rambut si anak, namun ia juga dapat memain-mainkan alat kelamin si anak. Percabulan tersebut dapat terus berlangsung selama beberapa minggu, bulan atau tahun jika tidak diketahui oleh orang dewasa lain dan jika si anak tidak memprotesnya.

  1. inces

mengacu pada hubungan seksual antara keluarga dekat, dimana pernikahan tidak diperbolehkan antra mereka. Biasanya adalah pada kakak dan adik kandung, dan bentuk lain yang umum dan dianggap lebih patologis adalah ayah dengan anak perempuan. Bukti menunjukkan struktur keluarga dimana inces terjadi adalah patriakhal yang tidak biasa dan tradisioanl, terutama dengan memandang posisi perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki. Orang tua dalam keluarga semacam ini akan cenderung menolak dan berjarak secara emosional dengan anak mereka. Lebih jauh lagi diyakini bahwa incest lebih banyak terjadi jika ibu tidak ada atau cacat, karena ibu biasanya melindungi anak-anak perempuannya dari penganiayaan seksual yang dilakukan anggota keluarga.konsumsi alkohol dan stress meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mencabuli anak. Data juga menunjukkan bahwa pedofil memiliki kematangan sosial, harga diri, pengendalian, impuls, dan ketrampilan sosial yang rendah (Kalichman, 1991; Overholser & Beck, 1986).

  1. Voyeurisme

Adalah preferensi yang nyata untuk memperoleh kepuasan seksual dengan melihat orng lain dalam keadaan tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual. Pada beberapa orang, hal ini merupakan satu-satunya aktivitas seksual dimana mereka terlibat. Sementara bagi yang lain, kegiatan ini disukai tetapi tidak sepenuhnyapenting untuk meraih rangsangan seksual (Kaplan & Kreuger, 1997).

Orang yang mengalami gnanguan ini akan mengalami kepuasan seksual dengan melakukan masturbasi, baik saat melihat kejadian ataupun sesudahnya. Terkadang mereka berfantasi melakukan kontak seksual dengan orang yang dilihat, namun hal ini tetap menjadi fantasi. Jarang sekali pelaku yang melakukan kontak seksual dengan orang yang diobservasinya. Biasanya gangguan ini muncul pada masa remaja.

  1. eksibisionisme

adalah preferensi yang jelas dan berulang untuk memperoleh kepuasan seksual dengan mempertunjukkan alat kelaminnya pada orang lain yang tidak menghendakinya, terkadang pada anak-anak. Biasanya mulai pada masa remaja (Murphy, 1997). Rangsangan seksual diperoleh pada saat pelaku membayangkan dirinya memamerkan alat kelamin atau benar-benar melakukannya dan ia melakukan masturbasi pada saat membayangkan atau saat sendang memamerkan alat kelaminnya. Pada banyak kasus terdapat keinginan untuk mengagetkan atau mepermalukan orang yang melihatnya.

  1. Frotteurisme

Yaitu orientasi seksual dengan menyentuh orang yang tidak disangka-sangka. Pelaku mungkin menggosokkan alat kelaminnya pada paha atau pantat seorang perempuan, atau memegang payudara atau alat kelamin seorang perempuan. Serangan ini biasanya dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan pelaku melarikan diri, misalnya di bis yang ramai atau jalanan. Gangguan biasanya sudah muncul pada masa remaja dan berkembang sejalan dengan parafilia yang lain.

  1. sadisme dan masokisme seksual\

sadisme adalah kegemaran untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menimbulkan kesakitan atau penderitaan psikologis (misalnya mempermalukan) pada orang lain. Sedangkan masokisme adalah kegemaran seseorang untuk memperoleh atau meningkatkan kepuasan seksual dengan menjadikan dirinya sebagai subyek untuk disakiti dan dipermalukan.

Kedua gangguan ini dapat ditemukan pada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Banyak orang sadis yang menjalin hubungan dengan orang masokis dengan memperoleh kepuasan seksual. Sekitar 5-10% populasi di Amerika Serikat terlibat dlam hubungan seperti ini.

ETIOLOGI

Sudut pandang psikodinamik

Parafilia dipandang sebagai reaki defensif, melindungi ego dari ketakutan dan ingatan yang direpres, dan merepresentasikan fiksasi pada tahapan pragenital dalam perkembangan psikoseksual. Orang yang mengidap parafilia dipandang sebagai seorang yang takut pada hubungan heteroseksual yang konvensional, bahkan untuk hubungan yang tidak berkaitan dengan seks. Perkembangan sosial dan seksualnya tidak matang dan tidak adekuat untuk menjalinhubungan sosial maupun seksual dalam dunia orang dewasa.

Sudut pandang cognitive-behavioral

Beberapa ahli berpandangan bahwa parafilia berasal dari kondisioning klasik yang kebetulan berhubungan dengan rangsangan seksual dengan kelompok stimulus yang secara budaya dianggap tidak sesuai untuk menimbulkan rangsangan seksual (Kinsey, Pomeroy & Martin, 1948).

Namun pandangan cognitive-behavioral tentang parafilia saat ini multidimensional, dan menyatakan bahwa parafilia adalah hasil dari berbagai faktor yang berpengaruh pada individu. Sejarah masa kanak-kanak dari orang yang mengidap parafilia menunjukkan seringkali mereka merupakan korban penyiksaan fisik dan seksual dan tumbuh dalam keluarga dimana hubungan orang tua terganggu. Pengalaman ini dapat berkontribusi terhadap rendahnya tingkat ketrampilan sosial, rendahnya kepercayaan diri, kesepian dan tidak adanya hubungan yang intim.

Distorsi kognitif juga dianggap berperan dalam pembentukan parafilia. Sedangkan dari perspektif kondisioning klasik, parafilia merupakan hasil dari pembelajaran ketrampilan sosial yang tidak adekuat atau penguatan yang tidak konvensional dari orang tua.

Penanganan/terapi

Pendekatan psikoanalitik

Sedikit sekali terapi psikoanalisa yang efektif untuk menangani parafilia.

Pendekatan behavioral

Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui reorientasi orgasmik, yaitu pasien belajar untuk lebih terangsang pada stimulus seksual yang konvensional, dengan berhadapan dengan stimulus tersebut.

Pendekatan kognitif

Terapi ini digunakan untuk mengcounter kesalahan berpikir dari individu dengan parafilia. Teknik lain adalah dengan mengajarkan empati terhadap orang lain, bahwa perilaku mereka mempengaruhi orang lain.

Pendekatan biologis

Beberapa intervensi biologis dilakukan sejak masa lalu, antara lain adalah kastrasi atau pengangkatan testis. Sedangkan saat ini, penanganan biologis untuk parafilia adalah dengan menggunakan obat. Yaitu dengan menggunakan jenis MPA yang menurunkan tingkat testosteron pada pria, sehingga diharapkan pria akan dapat menurunkan rangsangan seksual dan perilaku yang tidak dikehendaki juga tidak akan dilakukan lagi.

  1. GANGGUAN DISFUNGSI SEKSUAL

Bagian ini akan membahas tentang disfungsi seksual, yaitu masalah-masalah seksual yang dianggap menghambat siklus respon seksual yan normal (Davinson & Neale, 2001). Secara umum gangguan disfungsi seksual dibagi menjadi 4 kategori, yaitu gangguan hasrat seksual (sexual desire disorder), gangguan perangsangan seksual (Sexual arousal disorder), gangguan orgasme (orgasmic disorder) dan gangguan rasa sakit seksual (sexual pain disorder) (Kaplan, Sadock & Grebb, 1994). Namun sebelum membahas masing-masing gangguan akan dibahas dulu siklus seksualitas yang normal pada manusia.

Siklus respomn seksual pada manusia secara tipikal identik pada laki-laki dan perempuan, meliputi 4 fase (Davinson & Neale, 2001):

  1. keinginana (appettive)

yaitu minat atau keinginan seksual yang seringkali dikaitkan dengan fantasi-fantasi yang merangsang secara seksual.

  1. kegairahan (excitment)

fase pertama menurut Master & Johnson, yaitu pengalaman subyektif dari kegairahan seksual, yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis yang terjadi melalui peningkatan aliran darah ke genital dan pada wanita juga ke payudara. Pada pria hal ini muncul sebagai ereksi pada penis dan pada wanita pembesaran payudara dan perubahan pada vagina (seperti meningkatnya lubrikasi).

  1. orgasme

pada masa ini kenikmatan seksual mencapai puncaknya. Ditamdai dengan ejakulasi pada laki-laki (meskipun juga terjadi orgasme tanpa ejakulasi dan sebaliknya), dan pada perempuan ditandai dengan kontraksi pada dinding vagina.

  1. resolusi

tahap ini disebut sebagai relaksasi oleh Master & Johnson, dan perasaan senang biasanya menyertainya.

Prevalensi gangguan seksual pada populasi di Amerika Serikat diperkirakan cukup tinggi. Prevalensi keseluruhannya sektitar 43 % untuk perempuan dan 31 % untuk laki-laki.

  1. gangguan gairah seksual

terdiri dari gangguan gairah seksual hiporaktif dengan karakter defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual, serta sexual aversion disorder yaitu rasa sakit terhadap dan penghindaran melakukan kontak seksual dengan genital dengan pasangan. Ganguan hipoaktif lebih banyak pravelensinya sekitar 20% dari populasi di Amerika Serikat dibandingkan dengan gangguan sexual aversion. Ke dua gangguan ini sering disebut sebagai rendahnya hasrat seksual (Kaplan, Sadoc & Grebb, 1994).

Etiologinya agak sulit untuk diketahui. Diperkirakan hal ini berkaitan dengan masalah dalam hubungan dengan patner. Selain itu kemungkinan lain adalah masalah trauma seksual pada masa kanak-kanak, seperti pelecehan seksual atau perkosaaan, dan ketakutan akan mendapat penyakit menular seksual (Davinson & Neale, 2001).

  1. Gangguan perangsangan seksual (sexual arousal disorder)

2 comments on “GANGGUAN SEKSUAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

889 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>