Pendidikan Anak Usia Dini PAUD

PAUD pendidikan usia dini

PAUD

Salah satu fase penting dalam sejarah perkembangan kehidupan manusia adalah masa kanak-kanak.  Masa anak-anak, khususnya 5 tahun pertama dan masa sekolah merupakan suatu masa dimana terjadi banyak perubahan baik secara fisik, kognisi maupun sosialnya. Biasanya oleh para ahli, masa ini disebut sebagai masa GOLDEN AGE atau masa keemasan. Masa ini menjadi penting karena seluruh proses pemasakan terjadi pada masa ini.  Secara fisik, perkembangan baik motorik halus dan kasarnya mulai berkembang dan mengalami pemasakan. Secara kognisi, pada tahun-tahun ini otak anak sedang “dirajut” menjadi sebuah struktur otak yang lengkap. Seperti kita ketahui bahwa otak ini memiliki domain atau bagian untuk setiap kecerdasan. Andaikata ketika otak sedang merajut otak dengan fungsi kognitif tertentu (berbahasa), mengalami kerusakan karena salah asuh, akan mempengaruhi perkembangan anak dalam hal kemampuannya berkomunikasi secara verbal.  Secara sosial, anak sedang mengembangkan pola sosialisasinya. Berhubungan dengan dunia luar, anak belajar berbagi, anak mulai belajar ada orang lain disekitarnya, ketika pada tahap seperti ini anak mengalami salah pengasuhan, akan mengganggu proses sosialisasinya nanti. Bisa-bisa anak menjadi apatis (tidak peka terhadap perasaan orang lain), mau menang sendiri, tidak bisa bekerja sama, tidak bisa mengelola emosinya dengan baik dan keadaan ini biasanya memberi dampak pada perkembangan jangka panjang, yaitu pada masa remaja atau dewasa nanti.

Studi mengenai pentingnya masa ini sudah banyak dilakukan. Di Indonesia sendiri ditandai dengan tumbuhnya banyak lembaga yang menangani PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD). Kepentingan ini berkaitan dengan pentingnya masa kanak-kanak dan pengaruhnya terhadap masa selanjutnya.  Beberapa penelitian telah dihasilkan berkaitan dengan apa yang terjadi pada tahun pertama dari kehidupan mempunyai signifikansi yang berlangsung lama pada masa pertumbuhan anak-anak dan kehidupan orang dewasa (Daniel Fung, 2002).

Take home test ini merupakan salah satu bentuk evaluasi ilmiah yang diberikan dalam rangka memahami masa kanak-kanak ini, khususnya PAUD.  Berikut adalah jawaban atas pertanyaan kritis yang diberikan dalam rangka memahami dan mendalami PAUD :

  1. Pembahasan mengenai perkembangan manusia tidak terlepas dari kontroversi-kontroversi tentang bagaimana proses perkembangan itu terjadi, al :
    1. Nature vs nurture (bakat vs pengasuhan) :

Teori nature menyebutkan bahwa sifat-sifat bahkan perilaku seseorang bersifat genetis, dalam artian apa yang ada dalam diri manusia merupakan bawaan. Jika berkaitan dengan gen, selalu berkaitan dengan sesuatu yang tidak bisa diubah atau akan menetap.  Misalnya seorang ayah yang memiliki emosi yang meledak-ledak, akan  menurun kepada anaknya. Gen pemarah ayah menurun pada anak.

Teori ini kemudian dipatahkan oleh teori lain yang mengatakan bahwa manusia berkembang dibawah pengaruh pengasuhan (nurture). Pengasuhan ini berkaitan dengan lingkungan. Sehingga ini berarti apa yang terjadi dan ditunjukkan seseorang (anak) merupakan pembentukan lingkungan. Misalnya, ayah yang pemarah tadi belum tentu akan mempunyai anak yang pemarah. Tetapi ia akan jadi pemarah karena melihat dan belajar karena didik dalam lingkungan yang pemarah. Jadi tidak bersifat menurun secara genetis tetapi penekananya pada proses belajar anak.

  1. Kontinuitas vs diskontinuitas :

Kontinuitas menunjuk pada pandangan bahwa perkembangan meliputi perubahan yang berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, dari pembuahan sampai kematian. Ada tahap-tahap tetap yang harus dilalui seperti konsepsi –- zigot — janin — bayi — anak — remaja — dewasa.  Apa yang terjadi pada anak saat ini merupakan akumulasi dari apa yang ia pelajari pada taap sebelumnya. Jadi tahap saat ini bukan tahap yang terjadi begitu saja. Misalnya kata pertama seorang anak, tidak terjadi tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari pembelajaran anak berbulan-bulan.

Diskontinuitas merupakan pandangan perkembangan yang meliputi adanya tahap-tahap yang khas atau berbeda dalam masa hidup.  Teori diskontinuitas ini menunjukkan suatu urutan tahapan yang bersifat kualitatif daripada bersifat kuantitatif. Misalnya seorang anak yang beralih dari kemampuan berpikir pra operasional ke berpikir abstrak.  Ada perubahan secara kualitatif, seolah-olah terputus dari perkembangan, tidak secara kuantitatif.

  1. Organismik vs mekanistik :
  1. Memahami perkembangan tidak terlepas dari metode penelitian yang dipakai. Dalam ilmu perkembangan ada beberapa bentuk penelitian yang dipakai seperti penelitian longitudinal, penelitian cross sectional, eksperimen, laboratorium, studi kasus. Metode-metode ini dipakai untuk mengukur perilaku anak secara ilmiah. Ada beberapa yang hal mempengaruhi reliabilitas pengukuran pada penelitian perkembangan.

Reliabilitas biasanya dipahami sebagai keajegan. Keajegan ini berkaitan dengan kondisi yang stabil. Dalam arti ketika pengukuran yang sudah ditetapkan untuk mengukur suatu perilaku anak di pakai untuk mengukur perilaku yang sama ditempat lain, hasilnya selalu stabil atau hampir sama. Bahkan bisa dikatakan hasilnya bisa di generalisasikan

Hal-hal yang bisa melemahkan realibilitas pengukuran adalah :

  • Kondisi anak yang tidak bisa diramalkan seperti cepat bosan, tidak betah dengan satu kondisi, tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Sehingga bisa saja hari ini anak hadir, pengukuran kedua pada esok hari atau jam lain, anak tidak mau hadir.
  • Kondisi anak dalam hal kesehatan. Anak yang tidak sehat tidak bisa mengikuti prosedur pengukuran dengan baik.
  • Kehadiran orangtua atau pengasuh menemani anak ketika pengukuran berlangsung. Keaslian sikap danperilaku anak akan mengalami bias.
  • Kondisi lingkungan (tampat pengukuran berlangsung) yang tidak mendukung. Misalnya ingin mengukur peningkatan kognisi dengan bermain konstruksi. Alat ukur kognisi yang diberikan pada anak dikota bisa berbeda hasilnya dengan anak didesa karena ketika pemberian permainan, kondisi tempat bermain didesa ribut dengan suara binatang dan diluar ruangan. Perhatian anak terganggu.
  1. Kesalahan type I dan Type II.  2 type kesalahan ini berkaitan dengan bagaimana menarik kesimpulan validitas secra statistik.  Ada 2 jenis pengambilan keputusan, yaitu apakah hipotesis bisa diterima atau ditolak.

Kesalahan type I terjadi apabila hipotesis I ditolak (dengan angka probabilitas sama dengan a–dimana a dipakai sebagai kritik untuk menolak hipotesis null)

Kesalahan tipe II terjadi apabila hipotesis ke 2, yang tidak diharapkan diterima (angka probabilitas sama dengan b, dimana  [1- b] = power).

  1. Darwin juga menulis buku yang berkaitan dengan perkembangan emosi. Salah satu buku yang ditulisnya mempermasalahkan apakah emosi itu merupakan bawaan ataukah dipelajari. Bagi Darwin, emosi merupakan sesuatu yang bersifat herediter, dibawa sejak lahir oleh seorang anak. Menurutnya kemampuan seseorang mengkomunikasikan emosinya lewat ekspresi wajah merupakan bawaan/ innate.

Bagi penulis sendiri, pendapat Darwin ini tidak sepenuhnya. Ini berkaitan dengan ada beberapa emosi yang memang bersifat bawaan, misalnya tempramen. Dan sesuatu yang berkaitan dengan bawaan biasanya tidak bisa dirubah tetapi bisa diatur atau dikendalikan frekuensi nya. Tetapi jika ini berkaitan dengan pengungkapan emosi dengan ekspresi wajah, hal ini lebih cenderung pada proses pembelajaran.  Sejak lahir, bayi hanya mengenal emosi dasar seperti sakit (merasa tidak nyaman), diekspresikan dengan menangis; merasa nyaman diekspresikan dengan tidur tenang, tersnyum, tidak rewel. Perkembangan selebihnya lebih terpengaruh pada pola pembelajaran orangtuanya atau lingkungan (kebudayaan).  Misalnya, anak belajar mengekspresikan perasaan marahnya dengan perilaku agresif, biasanya dipelajari dari lingkungannya.

Ketika anak melakukan kesalahan kecil, orangtua memarahi dengan suara keras, melotot bahkan memukul dengan maksud anak tidak mengulang, tetapi justru anak belajar, ketika dia marah, saya harus mengekspresikan emosi marah saya dengan memukul, bersuara kasar seperti mama/ papa/ pengasuh.

Atau ketika anak merengek sesuatu kemudian dengan tidak sengaja melempar sesuatu ditangannya, tetapi orangtuanya tidak marah, anak belajar bahwa ketika ia membutuhkan sesuatu, merengek, membanting-banting barang dan ia tidak dimarahi malah diberi apa yang ia mau.

Penulis sendiri menyimpulkan bahwa ada pengaruh bawaan emosi yang bersifat temprament akan tetapi pengaruh lingkungan (dalam hal ini lingkungan keluarga) memiliki peran beras juga salam pembentukan atau proses regulasi emosi anak.

  1. Menurut Piaget, pelajaran perkalian dan pembagian diberikan guru bila anak paling tidak sudah berumur 7 tahun.

Piaget adalah tokoh perkembangan kognitif. Ada beberapa tahap kognisi yang digolongkan Piaget :

  • Tahap sensori motoris (1-2 tahun)
  • Tahap pra operasional (2-7 tahun)
  • Tahap konkret operasional
  • Tahap formal operasional

Sebelum anak berumur 7 tahun, anak masih sampai pada tahap berpikir pra operasional. Pada tahap ini anak masih dalam tahap mengembangkan kemampuan, al :

  • Anak suka bermain dengan simbol. Anak baru sampai pada tahap pemikiran simbolik. Anak mampu menggunakan simbol-simbol untuk mengintrepretasi benda yang ia ketahu atau kejadian yang ia alami. Ini bisa kita lihat dari kegiatan anak bermaian. Umumnya mereka melakukan permainan yang bersifat fantasi, bermain drama dengan meniru perilaku orang dewasa, menggambar dan penggunaan bahasa anak ketika bermain.
  • Anak usia 6 tahun kebawah masih mengalami kesukaran dalam klafisikasi, pengambilan keputusan, menggunakan konsep angka, usia dan konversi.
  • Usia 5-6 tahun, anak masih mengembangkan cara berpikir yang tranduktif, yaitu mengambil kesimpulan dari hal khusus.
  • Anak usia pra sekolah sudah bisa memahami konsep benda-benda yang kongkret, tetapi belum bisa untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak seperti umur dan angka. Pemahaman angka mereka masih terbatas pada penjumlahan dan pengurangan dengan bantuan benda-benda konkret seperi batu, kuhttp://sewaalatinterpretersemarang.comrsi, buah, permen.
  • Anak juga belum memahami ada tidaknya perubahan dalam ukuran jika terjadi perubahan bentuk

Dengan beberapa alasan diatas, bisa disimpulkan mengapa Piaget mengusulkan mengenai kapan sebaiknya anak diberi pengajaran perkalian dan pembagian.

jogjatranslate.com jasatranslate.com copycdjogja.com duplikatcd.com alatinterpreter.us alat-interpreter.com sewaalatinterpreterjogja.com rentalalatinterpreterjogja.com persewaanalatinterpreter.com jasainterpreter.us sewaalatinterpretersurabaya.com sewaalatinterpretersemarang.com interpreterjogja.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

889 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>