Proses psikologis dasar: Belajar dan memori

A. BELAJAR

Pengertian

Belajar merupakan topik dasar dalam psikologi yang berperan penting dalam hampir semua cabang psikologi. Sebagai contoh, ahli psikologi yang mempelajari persepsi akan bertanya, “Bagaimana kita belajar bahwa orang yang kelihatan kecil dari jarak tertentu itu berarti dia jauh dan tidak berarti orang tersebut kecil. Seorang ahli psikologi perkembangan mungkin akan bertanya-tanya, “Bagaimana bayi belajar membedakan ibunya dengan orang lain?. Seorang ahli psikologi klinis akan bertanya, mengapa sebagian orang takut pada laba-laba?” Psikolog sosial akan bertanya, Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang jauh cinta?”. Masing-masing pertanyaan ini meski ditarik dari cabang psikologi yang berbeda dapat dijawab hanya dengan mengacu pada proses belajar.

Belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Perilaku belajar memiliki ciri-ciri:

  1. merupakan sebuah proses yaitu belajar secara umum menunjuk pada proses perubahan
  2. relatif permanent, bahwa perubahan tersebut bukan karena kematangan, kelelahan maupun pengaruh zat-zat kimia
  3. perilaku, bahwa belajar akan menjadi bermakna (signifikan) jika ada manifestasi eksternal yang dapat diamati sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan
  4. bersifat potensial, sewaktu-waktu siap dimunculkan. Bahwa tidak semua yang kita pelajari berpengaruh langsung pada perilaku.

 

Tipe-Tipe Belajar

Belajar dapat dibedakan menjadi tiga tipe:

  1. Belajar dengan pembiasaan /Kondisioning Klasik (Classical Conditioning)
  2. Belajar operan/ Kondisioning Operan (Operant Conditioning)
  3. Belajar melalui pengamatan (Observational Learning)

 

Kondisioning Klasik

Teori belajar dengan kondisioning (pembiasaan) ini pada awalnya tidak secara sengaja ditemukan oleh seorang fisiolog Rusia, yakni Ivan P.Pavlov (1849-1936). Pavlov banyak melakukan penelitian tentang gerak refleks pada saluran pecernakan dengan menggunakan anjing sebagai subyek percobaannya. Setiap kali ia masuk laboratorium, anjing itu mengeluarkan air liur meski tidak membawa makanan. Fenomena tersebut diteliti lebih lanjut sehingga melahirkan teori belajar yang disebut Kondisioning Klasik.

Prinsip belajar dengan kondisioning klasik adalah pemasangan stimulus bersyarat dengan stimulus alami secara berulang-ulang sehingga terbentuk perilaku baru yang disebut sebagai respon bersyarat.

Untuk lebih memahami proses terjadinya kondisioning seperti yang dilakukan dalam eksperimen Pavlov, ada beberapa konsep dasar yang perlu diketahui:

  1. Stimulus Netral, yaitu stimulus yang – sebelum kondisioning – tidak berpengaruh terhadap respon yang diinginkan
  2. Stimulus Alami (Unconditioned Stimulus/UCS), yaitu stimulus  yang bisa menimbulkan respon secara alami/tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu
  3. Stimulus Bersyarat (Conditioned Stimuli/CS), yaitu stimulus yang tadinya netral, setelah proses kondisioning dapat menimbulkan respon yang diinginkan (respon bersyarat)
  4. Respon Alami (Unconditioned Response/UCR), yaitu respon yang terbentuk akibat kehadiran stimulus alami
  5. Respon Bersyarat ((Conditioned Response/CR), yaitu respon yang terbentuk setelah proses kondisioning  (sebagai akibat dari pemasangan stimulus alami/UCS dan stimulus bersyarat/CS secara berulang-ulang )

Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

Sebelum Kondisioning:

Stimulus Respon
Netral : Bunyi bel Tidak ada respon yang diharapkan
Alami/ UCS: Daging  UCR: Mengeluarkan air liur

 

Selama Kondisioning

Stimulus   Respon
Netral: Bunyi bel  

UCR: mengeluarkan air liur

Alami/ UCS: Daging  

 

Sesudah Kondisioning

Stimulus Respon
Bersyarat /CS: Bunyi bel CR: mengeluarkan air liur

Percobaan lain yang sejalan dengan prinsip-prinsip kondisioning klasik adalah percobaan yang dilakukan oleh JB Watson dari Amerika. Dia memasangkan stimulus dengan suara keras yang dipaparkan pada seorang bayi bernama Albert. Suara keras secara alami menghasilkan rasa takut pada bayi, sedang binatang berbulu pada awalnya menimbulkan reaksi senang. Setelah pemaparan berulang-ulang binatang berbulu yang diikuti dengan suara keras, bayi Albert memberikan respon takut terhadap binatang tersebut.

Fenomena – fenomena dalam kondisioning klasik

  1. extinction, adalah menurunnya frekuensi respon bersyarat bahkan akhirnya menghilangnya respon bersyarat akibat ketiadaan stimulus alami dalam proses kondisioning
  2. spontaneous recovery: munculnya kembali respon bersyarat yang tadinya menghilang beberapa waktu kemudian tanpa pemaparan stimulus bersyarat.
  3. generalisasi dan diskriminasi stimulus: generalisasi stimulus  adalah respon yang terjadi terhadap stimulus yang mirip dengan stimulus  bersyarat. Sedangkan diskriminasi stimulus  adalah proses organisme belajar membedakan stimulus  yang mirip dan membatasi responnya hanya terhadap stimulus  bersyarat.
  4. higher order conditioning, terjadi ketika stimulus  bersyarat yang telah dipaparkan pada proses kondisioning sebelumnya dipasangkan dengan stimulus  netral secara berulang. Jika stimulus  netral ini dapat menimbulkan respon bersyarat yang mirip terhadap stimulus  bersyarat sebelumnya,, higher order conditioning terjadi.

 

Kondisioning Operan

Berawal dari percobaan Thorndike lalu dikembangkan oleh Skinner. Skinner meyakini bahwa memang kita memiliki sesuatu seperti halnya jiwa atau pikiran, tetapi akan lebih produktif mempelajari perilaku yang dapat diamati daripada mengkaji peristiwa-peristiwa mental internal. Dia membedakan dua tipe perilaku, yaitu respondent behavior dan operant behavior. Respondent behvior adalah perilaku karena gerak refleks dan tidak perlu dipelajari. Operant behavior adalah perilaku karena hasil belajar dan kebanyakan perilaku manusia adalah termasuk dalam tipe ini.

Prinsip kondisioning operan memprediksikan jika suatu efek secara  konsisten mengikuti suatu perilaku atau tindakan, maka kita akan belajar bahwa perilaku kitalah yang menimbulkan efek tersebut, terlepas apakah itu benar-benar penyebabnya atau bukan. Dengan kata lain, belajar terbentuk karena konsekuensi perilaku yang ditimbulkan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Perilaku yang menimbulkan konsekuensi yang menyenangkan akan cenderung diulang (frekuensinya meningkat), sebaliknya jika konsekuensi yang ditimbulkan tidak menyenangkan maka perilaku akan cenderung dihindari (frekuensi menurun). Konsekuensi yang dapat meningkatkan probabilitas frekuensi terjadinya perilaku disebut reinforcement (penguatan/pengukuhan). Konsekuensi yang dapat menurunkan terjadinya perilaku disebut punishment. Macam reinforcement dan punishment dapat dilihat pada tabel berikut:

Jenis stimulus Pemberian Penghilangan
Positif (menyenangkan) Reinforcement positif Punishment by removal
Negatif (tidak menyenangkan) Punishment by applicatiion Reinforcement negatif

 

Jadwal pemberian reinforcement:

  1. continuous reinforcement: setiap perilaku/respon yang tepat diberi penguat
  2. partial reinforcement: tidak semua perilaku yang tepat diberi reinforcement, kadang diberi, kadang tidak
    1. Ratio: berdasar jumlah respon
  1.                                                               i.      Fixed Ratio Schedule:: reinforcement diberikan pada setiap jumlah tertentu respon yang diharapkan secara tetap, misal setiap 3 x respon tepat
  2.                                                             ii.      Variable Ratio Schedule: reinforcement diberikan pada sejumlah respon secara bervariasi
  3.                                                               i.      Fixed Interval Schedule: reinforcement diberikan pada setiap interval waktu yang tetap, misal setiap 10 menit
  4.                                                             ii.      Variable Interval Schedule: reinforcement diberikan pada setiap interval waktu yang bervariasi
    1. Interval:berdasar rentang waktu

 

Belajar Observasi

Teori belajar ini dikembangkan oleh Albert Bandura, merupakan perpaduan antara pandangan behavioristik dan kognitif, bahwa belajar tidak harus melalui reinforcement secara langsung seperti pada kondisioning operan. Belajar dapat terjadi karena individu meniru (imitasi) orang lain (model) yang mendapat reinforcement sebagai konsekuensi dari tindakan yang dilakukan oleh model tersebut. Ini disebut vicarious reinforcement. Bandura menyatakan bahwa terjadinya belajar sosial dengan melalui proses pengolahan informasi tentang konsekuensi yang diperoleh model sebelum memutuskan meniru atau tidak. (bersambung)

One comment on “Proses psikologis dasar: Belajar dan memori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,605 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>