Proses psikologis dasar: Emosi dan motivasi (bag 2)

MOTIVASI

Pengertian

Motivasi adalah faktor-faktor yang mengarahkan dan memberi energi pada tingkah laku.

Studi tentang motivasi mencakup identifikasi tentang mengapa orang melakukan sesuatu. Pertanyaan yang sering diajukan:

–          Mengapa orang memilih tujuan tertentu sehingga mendorong dia bertingkah laku?

–          Motif spesifik apa yang mengarahkan tingkah laku?

–          Perbedaan individual Apa saja yang ada sehingga tingkah laku bervariasi?

–          Bagaimana memotivasi orang agar mau melakukan tindakan tertentu?

Kompleksitas motivasi telah mengarahkan pada pengembangan sejumlah konsep tentang motivasi. Meskipun berbeda-beda penekanannya, semua pendekatan tersebut sama-sama berusaha mencari penjelasan tentang  energi yang membuat orang bertindak ke arah tertentu.

 

Pendekatan Instink

Menurut pendekatan ini, kita lahir dengan membawa seperangkat perilaku terprogram yang penting untuk bertahan hidup. Instink-instik ini memberi energi bagi tingkah laku sehingga menjadi terarah. Dari sini dapat diterangkan bahwa sex merupakan respon terhadap instink reproduksi, perilaku menjelajah merupakan tindakan yang didorong oleh instink teritorial.

Tokoh dalam pendekatan ini misalnya William McDougall. Dia mengatakan ada 18 macam instink pd manusia.

 

Pendekatan Pengurangan Dorongan (Drive – Reduction Approach)

Teori ini menyatakan bahwa ketika seseorang kekurangan kebutuhan biologis yang mendasar, misal kebutuhan minum, maka akan timbul dorongan (drive) untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Jika drive itu muncul maka akan menimbulkan kondisi ketidak seimbangan. Ketidak seimbangan ini akan kembali kepada keadaan seimbang (homeostasis) apabila kebutuhan yang muncul sudah terpenuhi.

Drive terdiri dari dua macam: primer dan sekunder. Dorongan primer mencakup segala kebutuhan yang sifatnya biologis. Sedang dorongan sekunder mencakup semua kebutuhan yang muncul akibat pengalaman dan belajar di masa lalu.

Pendekatan Arousal

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menemukan bahwa orang bertindak bukan semata-mata mengurangi ketegangan, tapi bahkan mencari ketegangan. Pendekatan arousal ini berusaha menjelaskan fenomena tersebut.

Menurut pendekatan ini, kita selalu berusaha mempertahankan tingkat simulasi dan aktivitas pada level tertentu. Jika terlalu tinggi maka kita akan berusaha mengurangi, sebaliknya jika terlalu rendah kita akan berusaha meninggikan dengan cara mencari stimulasi.

 

Pendekatan Insentif

Pendekatan ini lebih menekankan faktor eksternal daripada internal seperti pendekatan sebelumnya. Menurut teori ini, seseorang terdorong bertindak sesuatu karena adanya stimulus / reward  dari luar. Reward ini dalam istilah motivasi disebut insentif.

Pendekatan Kognitif

Pendekatan kognitif menekankan pada peran pikiran, harapan dan pemahaman kita terhadap lingkungan sekitar.

Contoh pendekatan ini adalah Teori Harapan dan Nilai (expectancy – value theory). Menurut teori ini, orang melakukan sesuatu didasari oleh harapan dan nilai tertentu. Jika orang meyakini bahwa tindakannya akan membawa pada pencapaian tujuan tertentu, dan bahwa tindakan itu sangat berharga, maka motivasinya akan tinggi.

Pendekatan kognitif membedakan dua macam motivasi: intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik menyebabkan kita melakukan sesuatu semata-mata demi kepuasan diri. Sedang motivasi ekstrinsik lebih karena reward dari luar.

Berdasar hasil penelitian, motivasi intrinsik lebih berpengaruh positif daripada ekstrinsik.

 

Pendekatan Humanistik: Hirarki Kebutuhan Maslow

Menurut Maslow, pada diri kita terdapat beberapa kebutuhan yang tersusun secara hirarkis sebagai berikut:

Aktualisasi Diri

Harga Diri

Kasih Sayang dan Rasa Memiliki

Rasa Aman

Fisiologis

 

Dorongan  untuk memenuhi kebutuhan muncul jika kebutuhan pada tingkat di bawahnya sudah terpenuhi. Misal dorongan untuk memenuhi kebutuhan rasa aman muncul jika kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi.

 

MOTIVASI DALAM KELAS

Mitos-Mitos Tentang Motivasi

  • Siswa yang tidak aktif terlibat dalam pembelajaran berarti tidak memiliki motivasi

–          siswa yang mengerjakan sesuatu belum tentu termotivasi untuk belajar, tetapi termotivasi untuk melakukan sesuatu , dan bahwa “sesuatu” ini dapat mengarah pada problem disiplin yang serius.

  • Kegagalan adalah motivator yang baik

–          pengalaman mungkin merupakan guru yang berharga, tetapi kegagalan yang kronis justru sering mengakibatkan hal yang sebaliknya. Kesuksesan meski itu kecil merupakan motivator yang lebih kuat bagi kebanyakan siswa.

  • Belajar lebih penting daripada motivasi

–          sebagian mengatakan hal yang demikian karena siswa harus belajar untuk survive, maka sekolah harus mendorong siswa untuk belajar. Meski keyakinan ini dapat menghasilkan belajar yang segera, tetapi pada akhirnya konsekuensi yang ditimbulkan negatif. Siswa mungkin tidak menggunakan hasil belajarnya karena tidak bermakna; lebih buruk lagi mereka semata-mata hanya didorong oleh pemikiran untuk menambah belajar.

  • Guru dapat memotivasi siswa

–          secara realistis, hal terbaik yang kita dapat lakukan adalah membuat kondisi belajar semenarik mungkin dan dapat memberi stimulasi. Persepsi, nilai-nilai, kepribadian dan penilaian siswa lah yang pada akhirnya menentukan motivasi mereka. Dengan menyesuaikan tugas dengan kemampuan di bawah kondisi yang menyenangkan dan bermakna (termasuk dorongan guru), kita dapat mendorong motivasi diri siswa.

  • Ancaman dapat meningkatkan motivasi

­          Dengan menggunakan ancaman akan dapat nilai rendah, dilaporkan pada orang tua, dan sebagainya, beberapa guru meyakini bahwa hal tersebut dapat memotivasi siswa. Meski ketegasan kadang perlu digunakan, membangun iklim kelas dengan ancaman akan bersifat kontra produktif.

  • Belajar akan secara otomatis meningkat sejalan dengan meningkatnya motivasi siswa

– bukti yang positif kurang  menunjukkan bahwa motivasi selalu meningkatkan belajar. Motivasi sudah pasti merupakan kondisi yang diperlukan untuk belajar, tetapi jika kondisi vital lainnya tidak ada, kita harus mempertanyakan sejauh mana hasil belajarnya. Sebagai contoh, seorang guru mungkin telah dapat memotivasi siswa, tetapi jika pelajaran tidak terencana dengan baik, guru tidak dapat mengendalikan kelas, atau guru tidak jelas dalam menerangkan pelajaran, maka siswa yang termotivasi mungkin akan belajar lebih sedikit daripada jika kondisi-kondisi lain lebih baik.

 

Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Siswa

  • Kecemasan

Sumbernya dapat dari guru, ujian, teman sebaya, hubungan sosial, standar prestasi, pemikiran anak laki-laki terhadap anak perempuan dan sebaliknya, kesukaan atau ketidaksukaan terhadap  mata pelajaran, dan jarak dari rumah ke sekolah.

  • Sikap

Terbentuknya sikap dapat bersumber dari orang tua, saudara, teman sebaya, guru, performan siswa sendiri, dll.

Strategi untuk menumbuhkam sikap yang positif

  • Ø Sikap terhadap guru

–          sharing sesuatu dengan siswa secara individu dengan cara yang sealamiah mungkin

–          penerimaan terhadap  siswa tanpa harus perlu menerima perilakunya

  • Ø Sikap terhadap mata pelajaran

–          tunjukkan antusiasme terhadap mata pelajaran

–          hati-hati terhadap apa yang secara tidak langsung diajarkan dalam mata pelajaran tersebut, misal hindari tugas ekstra sebagai hukuman

–          tunjukkan betapa penting / bermaknanya mata pelajaran tersebut

  • Ø Sikap siswa terhadap dirinya sendiri

–          beri jaminan kesuksesan bahwa apapun yang akan dilakukan siswa yang memiliki pengalaman konsep diri yang jelek akan berhasil

–          siap untuk memberi dorongan secara konstan, yaitu pada awalnya kita dekati dia untuk menghargai usaha dan kesuksesannya, lalu bantulah mereka pada permulaan mengerjakan tugas untuk meminimalkan kesalahan. Lalu tekankan untuk belajar dari kesalahan dan berilah penguat pada usahanya.

  • Rasa ingin tahu

Cara-cara untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa :

–          tunjukkan antusiasme kita terhadap mata pelajaran yang diajarkan

–          beri sitmulasi berupa konflik kognitif

–          beri kebebasan siswa untuk memilih topik kapan saja jika memungkinkan, biarkan mereka mengeksplorasi sendiri

–          beritahu siswa bahwa kita tertarik ingin mengetahui dan menyelidiki sesuatu dan tunjukkan perilaku yg biasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu dalam memecahkan masalah.

  • Locus of control (Pusat Kendali Diri)

Pusat kendali diri adalah kesadaran akan penjelasan terhadap sebab-sebab perilaku  individu. Jika  individu meyakini sebabnya ada di dalam individu sendiri maka disebut pusat kendali dirinya internal, jika penyebabnya di luar individu maka disebut eksternal.

Karakteristik :

LOC Internal

LOC Eksternal

Siap siaga

Kompeten

Mampu menolak pengaruh

Mendominasi

Berorientasi pada prestasi

Independen

Percaya dri

TrampilKurang perhatian

Performannya tidak menentu

Dipengaruhi oleh status

Dipengaruhi oleh teman sebaya

Dikendalikan oleh orang lain

Kurang percaya diri terhadap kemampuannya

Bereaksi secara acak

 

 

Dari tabel di atas maka wajar jika LOC internal lebih dikehendaki daripada LOC eksternal

Implikasi di kelas :

–          Buatlah usaha-usaha untuk memberi siswa suatu tantangan yang realistis. Untuk itu kita harus mengenali siswa sehingga dapat menentukan apa yang dapat dicapai oleh siswa.

–          Kemudian secara hati-hati beri reward atas hasil yang dicapai atau sekurang-kurangnya atas usaha siswa. Reinforcement harus didasarkan pada pencapaian aktual siswa.

–          Gunakan keberhasilan awal dan dorong siswa untuk biasa mencoba dan mengambil tanggung jawab atas tindakannya

  • Learned Helplesness (Ketidakberdayaan yang dipelajari)

Adalah reaksi individu yang menjadi frustrasi dan berhenti berusaha setelah gagal berulang kali meski sebenarnya masih mampu mengubah keadaan. Di sini individu mempersepsikan bahwa lingkungan sekitarnya sudah tidak dapat dikontrol lagi.

Penelitian Diener dan Dweck:

–          ada dua pola perilaku reaksi  siswa terhadap kegagalan : “helpless” dan “mastery-oriented”

–          siswa yang helpless cenderung merenungi hal-hal yang menyebabkan dia gagal, cenderung meremehkan kesuksesan yang diperoleh dan melebih-lebihkan kegagalan

–          siswa yang “mastery-oriented” lebih berfokus pada usaha menemukan solusi bagi problem yang tadinya gagal dipecahkan

Strategi menghadapi siswa yang helpless:  bantulah dia untuk mengevaluasi kegagalannya secara realistis dan memfokuskan diri pada usaha untuk mencapai kesuksesan dan mengatasi perasaan tidak berdaya.

  • Self-Efficacy (Efikasi Diri)

Ini adalah konsep yang dikemukakan oleh Bandura.

Yaitu  penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk mengorganisir dan melakukan suatu pola tindakan untuk mencapai tipe performan yang diharapkan.

Bandura meyakini bahwa efikasi diri penting bagi kontrol siswa atas motivasinya. Siswa yang memiliki efikasi diri yang kuat cenderung memusatkan perhatian dan usahanya pada tuntutan tugas dan meminimalisir kesukaran-kesukaran yang potensial.

Dalam teori ini dibedakan antara efficacy expectation (efikasi harapan) dengan outcome expectation (harapan hasil). Harapan hasil mencerminkan perkiraan seseorang bahwa perilaku tertentu akan mengarahkan pada hasil tertentu. Sedangkan efikasi harapan adalah keyakinan individu bahwa dia dapat melakukan suatu tindakan yang diperlukan untuk menimbulkan hasil tertentu. Ini perlu dibedakan karena seorang siswa mungkin meyakini bahwa perilaku tertentu dapat memberikan hasil tertentu tapi di tidak yakin dapat melakukan perilaku tersebut.

Efikasi diri siswa berpengaruh terhadap tantangan apa yang akan dihadapi, seberapa banyak usaha yang harus dikeluarkan, berapa lama dapat bertahan, dan seberapa banyak stress yang dapat ditanggung. Siswa-siswa hanya akan menerima tujuan yang bermakna bagi mereka dan bahwa mereka  yakin mampu mencapainya.

Siswa mungkin memiliki efikasi diri yang rendah pada satu bidang tertentu (misal matematika) dan  tinggi pada bidang yang lain (misal bahasa)

  • Cooperative Learning (Belajar Kooperatif)

Yaitu seperangkat metode pengajaran  dimana siswa didorong atau dituntut untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Ini melibatkan dua hal : struktur tugas untuk memastikan bahwa anggota kelompok harus bekerja sama satu sama lain dan struktur reward.

Agar efektif harus ada dua kondisi yang harus terpenuhi: masing – masing kelompok memilki tujuan bersama yang bermakna bagi individu dan kesuksesan kelompok harus muncul dari usaha semua anggota kelompok.

Semata-mata menempatkan siswa secara bersama tidak akan menghasilkan perolehan belajar. Siswa perlu bekerja untuk tujuan kelompok dan semua anggota harus memberikan kontribusinya, bukan hanya yang terpandai.

Belajar kooperatif jika dilaksanakan secara baik dapat meningkatkan motivasi, mendorong siswa dari semua golongan untuk bekerja sama dan mengenalkan toleransi dalam kelas yang majemuk.

 

Implikasi Motivasi Dalam Pendidikan

Wlodkowski mencatat bahwa  dalam suatu peristiwa belajar, strategi motivasi dapat berpengaruh penting pada awal, selama dan akhir pembelajaran.

Faktor Kunci Yang terlibat
Awal pembelajaran Sikap dan kebutuhan
Selama pembelajaran Stimulasi dan emosi
Akhir pembelajaran Kompetensi dan reinforcement

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,169 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>