Gangguan Pengendalian Diri : Berjudi Patologi

Berjudi Patologi

Mabuk Judi

Berjudi Patologi

Orang yang dikatakan berjudi patologi adalah orang-orang yang mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk berjudi melebihi orang-orang kebanyakan dan sering pada akhirnya mereka membelanjakan seluruh hidupnya untuk mengejar kemenangan.

Karakteristik

Penjudi patologik tidak mampu melindungi diri mereka  dari keinginan untuk bertaruh. Obsesi mereka adalah mendapatkan uang yang banyak dan menggunakannya untuk kegiatan yang biasa mereka lakukan. Apabila mereka dihalangi berjudi, mereka akan tidak bisa istirahat dan gelisah. Beberapa penjudi patologik mencoba dengan putus asa untuk berhenti tetapi tidak bisa, mereka menipu diri mereka dan orang lain untuk berhernti bila meraka dapat mengganti kehilangan yang telah mereka alami tetapi itu tidak pernah menjadi kenyataan. Lingkungan keluarga dan kerja memburuk sebagai dampak dari munculnya masalah hukum dan finansial. Beberapa penjudi patologik datang dengan perasaan yang putus asa dan memikirkan atau berniat untuk bunuh diri.

Judi patologi berdampak merusak pada kehidupan mereka, perilaku ini mengikis kesejahteraan/kesehatan keluarga. Masalah yang paling banyak dilaporkan para istri dengan suami penjudi adalah gangguan emosional. Perilaku koping yang disfungsional tampil dalam bentuk alkoholik, merokok, makan berlebihan dll. Juga terjadi kekerasan baik fisik maupun verbal dan bahkan usaha bunuh diri. Anak dengan ayah penjudi juga mengalami masalah perilaku baik di sekolah maupun di rumah, seperti ketergantungan obat, tindak kejahatan atau aktivitas yang berhubungan dengan judi. Mereka mempunyai masalah keuangan yang berat sehingga harus meminjam kepada keluarga, teman atau kreditor.

Sangalah jelas, meskipun masyarakat Amerika Serikat memberikan banyak kesempatan berjudi, tidak tiap orang yang berjudi menjadi penjudi patologis. Bagaimanakah hal yang di masa lalu nampak tidak berbahaya berkembang menjadi pola yang mendorong kerusakan diri ? Menurut psikiater Robert L. Custer yang di tahun 1974 mendirikan klinik pertama perawatan judi patologis di Amerika Serikat, seseorang menjadi penjudi patologis mnelalui serangkaian tahap yang di dalamnya berjudi berkembang dari olahraga yang relatif tidak berbahaya  menjadi sebuah fokus total hudup (Custer, 1982). Di tahap pertama seseorang hanya sebagai penjudi hanya sebagai rekreasi yang menikmati berjudi sebagai sebuah aktivitas sosial.  Dalam hal ini perilaku seseorang tidak dapat dipisahkan dari pola berjudi yang ditunjukkan oleh orang awam yang berhenti saat mulai kalah, atau menerapkan batas saat mereka berjudi. Pergeseran ke tahap berikutnya, yang merupakan awal pola berjudi patologis, terjadi saat seseorang mulai memperoleh kemenangan. Saat ini penjudi mulai memperoleh indentisa sebagai pemenang, dan lebih sering keberhasilan diperoleh dalam berjudi, semakin kuat identitas ini.

Selama tahap kemenangan awal, seseorang memperoleh keahlian berjudi, yang dapat meningkat kapanpun mengamali keberuntungan dengan pengetahuan yang lebih besar atas berbegai strategi yang berperan dalam kemenangan.  Jika pada tahap ini seseorang memperoleh kemnangan besar, mendapatkan uang yang lebih besar dalam satu taruhan, penjudi menjadi terdorong ke dalam sebuah pola kecanduan yang tidak dapat dihindarkan menjadi hampir tidak mungkin untuk berhenti. Peristiwa ini sangat menguatkan secara finansial dan psikologis, bahwa seorang individu menjadi dikuasai keinginan untuk mengamaminya kembali.  Penjui sekarang yakin memiliki keberuntungan besar yang unik dan keahlian berjudi, dan mulai membuat taruhan yang lebih beresiko dan lebih mahal. Meski demikian, tidak dapat diacuhkan bahwa keberuntungan tidak bertahan lama, dan orang itu mulai kalah. Kapanpun uang yang diperoleh dari kemenangan besar menghilang sebagaimana kekalahan mulai yang diderita lebih banyak. Menjaga seseorang tetap mempercayaai kepercayaan palsunya bahwa jika kemenangan besar dapat teruloang maka semua masalah akan berakhir. Penjudi bahkan akan berjanji untuk berhenti setelah mendapatkan kemenagang besar lainnya. Pada tahap ini, seseorang mulai berusaha lebih dan lebih keras untuk menebus kekalahan sebelumnya. Sebagaimana keputusasaan mennggunung, seseorang sepenuhnya meluncur kedalam kegiatan yang lebih intensif dan yang dikonsumsi semuanya. Dan diakibatkan sepenuhnya oleh keputusasaan ini, penjudi menerita kehilangan penilaian dan bertaruh secara ceroboh.

Dalam pencarian terhukum atas kemenangan besar  lainnya, sebuah siklus menjadi mapan yang didalamnya penjudi patologis memperoleh kemenagan periodik dan yang mempertahankan optimisme yang tidak masuk akal, namun perolehan ini tidak akan pernah menghapus hutang, karena bagi tiap kenengan yang dialamia, meneruskan berjudi membawa  kerugian yang lebih besar. Pada waktunya kemampuan fisik, psikologis, dan keuangan penjudi menurun drastis dan orang tersebut melakukan tindakan drastis seperti bunuh diri, melarikan diri, atau memulai hidup dalam kejahatan.

Teori dan perawatan 

Kita baru saja melihat tahap yang dikatakan bermula dari berjudi yang sifatnya rekreasi sampai patologis. Tahap ini nampaknya melibatkan beberapa faktor yang sama yang berperan dalam kecanduan alkohol dan obat-obatan, pada seseorang yang terus menerus mencari kepuasan dari suatu perilaku yang memiliki potensi imbala yang kuat meskipun membawa masalah. Usaha memperoleh kemenangan besar secar terus menerus cenderung seperti ketergantungan alkohol, seseorang mencari perasaan terangsang dan terpuaskan melalui pemakaian alkohol, meskipun ada perbedaan yang siginifikan antara keduanya. Membelanjakan uang tidak secara inheren mampu memuaskan sebagaimana menggunakan bahan psikoaktif, demikian juga, pnjudi tidak bertambah kuat dalam tiap berspekulasi saat berjudi, sedangkan alkoholik (pecandu alkohol) mendapatkan penguatan tiap mereka mabuk (Rachlin, 1990).

Selain perbedaan ini, baik ketergantungan alkohol dan penjudi patologis merupakan perilaku kecanduan, dan peneliti terus mencari tahu mengapa bangak penjudi patologis juga memiliki gejala kelainan yang merusak (McCormick dkk, 1987). Mungkin hubungan ini terpendam dalam fakta sebagaimana gejala gangguan, penjudi patologis mencari sesnsasi baru dan yang menarik (Blazcynski dkk 1986).  Penjudi dengan mudah menjadi bosan (Rosenthal, 1986) dan kecanduan rangsangan, apa yang merek asebut “sedang bekerja”. Mereka bergairah oleh resiko kehilangan sebagaimana gairah kemengangan, pengalaman yang menambah penguatan nilai berjudi.

Sebagai tambahan kemudahan menjadi kecanduan, faktor lain apa yang mendorong sejumlah orang menjadi penjudi patologis? Beberapa karakter pribadi yang menarik biasanya melekat pada penjudi patologis, misalnya, penjudi pria cenderung memaksa dan anti sosial, wanita dengan kelainan ini biasanya lebih tergantung, tunduk dan tidak agresif (Peck, 1986). Penjudi patologis juga narsis dan agresif (Dell dkk, 1981), mencari keberhasilan dengan cara yang tidak lazim (Taber dkk, 1986). Dalam survei anggota Gam-Anon (Lorenz & Shuttlesworth, 1983), gambaran istri tentang suami mereka juga memberikan beberapa pandangan yang menarik atas pnjudi patologis. Hampir semua isteri  mengatakan mereka mengatahui suami mereka pembohong yang tidak bertanggungjawab, tidak komunikatif, bermuka dua, dan menuruti kata hati.

Sebagai tambahan karakter pribadi ini, telah dinyatakan bahwa sejumlah besar penjudi patologis diderita dari kelainan emosi, bahkan, terdapat sekumpulan bukti yang mengarah pada penjudi patologis terkait dengan kelainan emosi (McElroy dkk, 1992). Peneliti menyelidiki kemungkinan pengaruh faktor biologis dalam perjudian patologis telah menemukan beberapa karakter menarik pada penderita kelainan ini. Misalnya, penjudi patologis menunjukkan aktivitas noreoinephrine (roy dkk, 1988) dan kecenderunagn besara kelainan Eeg (Goldstein dkk, 1985) ketimbang subjek pembanding.

Sangatlah menarik, penjudi patologis mempercayai bahwa mereka mengendalikan aspek acak perjudian (Dickerson & Adcock, 1987). Mislnya, saat bermain mesin slot, pnjudi patologis biasanya, mengambil waktu untuk menyelidiki sebuah mesin slot sebelum memainkkannya. Mereka dengan cermat mempelajari segi permasalhana mesin yang tidak diperhatikan orang lain, seperti posisi mesin dalam barisan mesin slot atau bagaimana rasa pegangannya. Secara keliru meyakini bahwa mereka dapat memngendalikan kemungkinan yang mempengaruhi hasil taruhan mereka, mereka mengembangkan gagasan yang megah yang mengarahkan mereka untuk menyakini kesuskesesan besar mereka.

Dalam beberap kasus, seorang penjudi patologis mungkin ditopang oleh hubungan perkawianan yang tidak harmonis. Suami penjudi meungkin memperbolehkan isterinya untuk menyalahkan konflik perkawinan  atau suami penjudinya ketimbang pada permasalahaan pribadinya. Atau seorang suami mungkin mendesak isterinya untuk bertaruh jika ia membagi optimismenya yang salah  bahwa isterinya akan memperoleh kemenangan besar secara ajaib (Gaudia, 1987). Bahkan jika pasangan yang tidak berjudi mencoba melepaskan diri dari perkawinan,  akan dipersulit oleh ancaman penjudi atau janji palsu. Dalam suvei pasangan Gam-Anon, isteri penjudi patologis menunjukkan bahwa mereka memiliki kesulitan menjalani niat mereka untuk menyimpan uang dari suami mereka,  dan menkipun tujuh lima persen dari mereka  manunjukkan keinginan untuk bercerai, banyak yang tetap bertahan dengan pasangnnya karena mereka mencintainya, dan berharap mereka akan membaik. Yang menarik, hampir seperlima istrei dalam penelitian ini berasal dari keluarga yang orang tuanya penjudi patologis (Lorenz & Shuttleworth, 1983).

Seperti seseorang yang kecanduan alkohol, penjudi patologis menyangkal menunjukkan tingkat kesulitan mereka dan kecenderungan untuk mecari pengobatan. Saat mereka melakukanya, hal ini berasal dari keputusasaan, merasa bahwa mereka tidak punya pilihan lain karena masalah keuangan, hukum dan keluarga yang serius. Bahkan kemudian mereka harus berhadapan dengan sifat terpendam masalah perjudian mereka. Penedekaatan ini digunakan dalam kelompok seperti Gamblers Anonymous yang anggotanya meruntuhkan tembok penyangkalan antara satu dengan lainnya (Franklin & Ciarrocchi, 1987).

Metode perlakuan mirip dengan teknik untuk merawat kecanduan alkohol yang banyak dipakai secara umum. Dalam emiasaan aversif, metode perlakuan yang paling sering digunakan, seseorang menerima sngatan lisrik yang tidak nyaman namun  tidak menyakitkan ke jari-jari setelah membaca serangkaian bacaan tentang berjudi (McConaghy dkk, 1983). Bagi metode penyingkapan in vivo, seseorang diajak terapis ke kasino judi namun hanya diijinkan melihat tidak berjudi. Metode lainnya, yang nampaknya memiliki efektifitas jangka panjang (McConaghy 1991) adalah dsesensitasi imaginer. Dalam bentuk perawatan ini. klien diminta untuk mambayangkan gambaran yang didalamnya mereka merasa tergoda untuk berjudi dan bersantai saat mereka membayangkan tiap rangkaian perilaku yang terjadi dalam gambaran khususn. Dsesnrisasi dalam prosedur ini dibandingkan dengan yang digunakan untuk merawat orang yang memiliki fobia., dalam hal itu seseorang belajar mengantikan tanggapan yang diberikan pada situasi tersebit dengan tanggapn yang baru yang menggantikan perilaku yang bermasalah.  Dengan penggantian relaksasi bagi penampakan dalam situasi ini, mereka belajra untuk menghindari menjadi tertekan saat tidak diijinkan berjudi, dan melajar mengenali bahwa mereka memiliki kemapuan mengendalikan kecanduan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

1,738 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>