Anak Berbakat (Gifted)

anak berbakat

anak berbakat

PENDAHULUAN

          Anak berbakat (Gifted) memiliki kemampuan luar biasa, yang berbeda jauh dengan anak-anak lainnya.  Perbedaan ini pada umumnya membuat anak berbakat dilihat sebagai individu yang unik, istimewa, atau bahkan bisa dianggap sebagai anak yang aneh. Sebagai anak yang berbeda seringkali anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya terutama teman sebaya. Kesulitan ini sedikit banyak mempengaruhi perkembangan mereka sebagai pribadi. Tidak jarang hal ini berakibat munculnya masalah psikologis yang sulit diatasi sendiri tanpa dukungan dari lingkungan sosial, terutama keluarga dan sekolah. Dengan melihat kondisi ini, kami tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang perkembangan seorang anak berbakat dalam kaitannya dengan relasinya di sekolah, di rumah, juga perkembangan potensi kecerdasan maupun kepribadian. Telaah yang kami lakukan adalah telaah pustaka, dan resensi film. Dengan telaah pustaka diharapkan kami memperoleh cara pandang atau paradigma yang benar tentang anak berbakat, dengan resensi film diharapkan kami memperoleh gambaran yang konkrit dan detil tentang kehidupan sehari-hari dan perkembangan anak berbakat. Adapun film yang kami angkat adalah ”Little Man Tate”. Hasil telaah itu kemudian kami tuangkan dalam bentuk dinamika psikologis, yang menggambarkan bagaimana interaksi dan interdependensi dari berbagai aspek psikologis yang dimiliki oleh tokoh film, ”Fred”.

TINJAUAN TEORITIS

I. GIFTED CHILDREN

DEFINISI

Keberbakatan seperti juga inteligensi tidak mudah untuk diukur. Terjadi perbedaan pendapat tentang siapa yang dapat disebut berbakat dan dengan dasar apa orang disebut berbakat. Hal lain yang membingungkan adalah kreatifitas dan bakat seni seringkali dipandang sebagai spek atau tipe keberbakatan tetapi kadangkadang dianggap independent.

Menurut gifted and talented children’s education act of 1978, anak gifted didefinisikan sebagai : anak yang teridentifikasi saat prasekolah, sekolah dasar atau menengah sebagai orang yang memiliki kemampuan potensial dan menunjukkan kapabilitas performansi pada area yang spesifik (yang misalnya intelektua, kreativitas, akademis tertentu, seni, kepemimpinan) dan kemudian membutuhkan pelayanan atau kegiatan yang tidak seperti biasanya dari sekolah

IDENTIFIKASI KEBERBAKATAN

Secara tradisional diidentifikasi berbakat bila kecerdasan umum tinggi dengan skor IQ di atas 130.  Kemudian dewasa ini digunakan multiple kriteria untuk mengidentifikasi keberbakatan. Kecerdassan umum tetap menjadi penentu, kemudian dilihat bakat/kemampuan spesifik (matematik atau sains) kreativitas atau produktivitas berpikir, kepemimpinan, bakat dalam seni dan kemampuan psikomotorik.

MENDIDIK ANAK BERBAKAT

Program untuk anak berbakat

  1. Enrichment

Memperluas dan memperdalam pengetahuan dan keterampilan melalui kegiatan di luar kelas, projek penelitian, field trips, coaching by experts.

Renzulli menyatakan model enrichmen untuk anak gifted yang disebut triad model, yaitu memberikan kesempatan untuk eksplorasi, skill building, dan research into real problem. Eksplorasi memberi anak kesempatan menemukan topik yang diminati tetapi tidak diberikan dalam kurikulum. Skill building memfokuskan anak pada penelitiann, data dan kemampuan berkomunikasi menyediakan pengenalan terhadap strategi pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Research into real problem memberikan kesempatan untuk menemukan situasi aktual dan menawarkan solusi yang baru.

  1. Acceleration

Memasukkan anak ke sekolah dengan lebih dini, melompat kelas, menempatkan pada program kelas percepatan, atau melalui pemberian advance course pada subjek materi tertentu.

II. TEORI KECERDASAN

  1. 1.   MULTIPLE INTELLIGENCE (GARDNER)

Menurut Gardner (1996),  kapasitas kecerdasan individu tidak hanya terdiri dari faktor g, dan komponen kecerdasan tidak hanya faktor bahasa, logika, dan spasial seperti yang diidentifikasi oleh pendekatan lain. Ia menyimpulkan bahwa bukti secara komulatif menunjukkan adanya 7 bahkan mungkin 8 inteligensi yang berbeda dan masing-masing berdiri sendiri. Perkembangan inteligensi ini berbeda-beda pada tiap orang berkaitan dengan faktor hereditas dan pelatihan. Ia meyakini bahwa semua macam inteligensi ini perlu diukur untuk menggambarkan kapasitas kecerdasan yang sesungguhnya. Jenis-jenis inteligensi  menurut Gardner :

  1. Inteligensi spasial (Spatial Intelligence), merupakan kecerdasan seseorang yang berdasar pada kemampuan  menangkap informasi visual atau spasial, mentransformasi dan memodifikasinya,  membentuk kembali gambaran visual tanpa stimulus fisik yang asli. Kecerdasan ini tidak tergantung sensasi visual. Kemampuan pokoknya adalah kemampuan untuk membayangkan bentuk tiga dimensi dan mampu menggerakkan atau memutar bentuk tersebut dalam pikirannya. Individu yang memiliki kecerdasan tersebut cenderung berpikir dalam pola-pola yang berbentuk gambar. Mereka sangat menyukai bentuk-bentuk peta, bagan, gambar, video ataupun film sebagai media yang efektif dalam berbagai kegiatan hidup sehari-hari.
  2. Inteligensi bahasa (Linguistic Intelligence), merupakan kecerdasan individu dengan dasar penggunaan kata-kata dan atau bahasa. Meliputi mekanisme yang berkaitan dengan fonologi, sintaksis, semantik dan

pragmatik, terlibat dalam proses berbicara, mendengarkan, membaca dan menulis.  Mereka yang memiliki kecerdasan tersebut, mempunyai kecakapan tinggi dalam merespon dan belajar dengan suara dan makna dari bahasa yang digunakan. Mereka lebih bisa berpikir dalam bentuk kata-kata daripada gambar. Kecerdasan ini merupakan aset berharga bagi jurnalis, pengacara, pencipta iklan.

  1. Inteligensi logis-matematis (Logical-Mathematical Intelligence). Merupakan kecerdasan yang didasarkan pada penggunaan penalaran, logika dan angka-angka matematis. Pola pikir yang berkembang melalui kecerdasan ini adalah kemampuan konseptual dalam kerangka logika dan angka yang digunakan untuk membuat hubungan antara berbagai informasi, secara bermakna. Kecerdasan ini diperlukan oleh ahli matematika, pemprogram komputer, analis keuangan, akuntan, insinyur dan ilmuwan.
  2. Inteligensi gerakan tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence). Kemampuan untuk mengendalikan gerakan tubuh dan memainkan benda-benda dengan cara luar biasa. Individu akan cenderung mengekspresikan diri melalui gerakan tubuh, memiliki keseimbangan yang baik dan mampu melakukan berbagai manufer fisik dengan cerdik. Melalui gerakan tubuh pula individu dapat berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya, mengingat dan memproses setiap informasi yang diterimanya. Kecerdasan ini dapat terlihat pada koreografer, penari, pemanjat tebing.
  3. E.   Inteligensi Musik (Musical Intelligence), memungkinkan individu menciptakan, mengkomunikasikan dan memahami makna yang dihasilkan oleh suara. Komponen inti dalam pemprosesan informasi meliputi pitch, ritme dan timbre. Terlihat pada komposer, konduktor, teknisi audio, mereka yang kompeten pada musik instrumentalia dan akustik.
  4. F.    Inteligensi antar personal (Interpersonal Intelligence), merupakan kecerdasan dalam berhubungan dan memahami orang lain di luar dirinya. Kecerdasan tersebut menuntun individu untuk melihat berbagai fenomena dari sudut pandang orang lain, agar dapat memahami bagaimana mereka melihat dan merasakan. Sehingga terbentuk kemampuan yang baik dalam mengorganisasikan, dan menjalin kerjasama dengan orang lain ataupun menjaga kesatuan suatu kelompok. Kemampuan tersebut ditunjang dengan bahasa verbal dan non-verbal untuk membuka saluran komunikasi dengan orang lain.
  5. G.   Inteligensi dalam diri (Intrapersonal Intelligence), mendasarkan pada proses dasar yang memungkinkan individu untuk mengklasifikasikan dengan tepat perasaan-perasaan mereka, misalnya membedakan sakit dan senang dan bertingkah laku tepat sesuai perasaannya. Kecerdasan ini memungkinkan individu untuk membangun model mental mereka yang akurat, dan menggambarkan beberapa model untuk membuat keputusan yang baik dalam hidup mereka.
  6. H.   Inteligensi Natural (Naturalistic Intelligence), merupakan kecerdasan yang melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja secara efektif dengan alam sekitar. Kecerdasan ini dimiliki oleh para ahli biologi dan zoology.

Dengan potensi kecerdasan ganda di atas, maka setiap orang memiliki gaya belajar yang unik yang bergantung pada kecerdasan mana yang menonjol (Amstrong, 2003) :

1. Linguistic Intelligence: anak yang memiliki kecerdasan linguistic tinggi senang belajar kata-kata dan bahasa yang berkaitan dengan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara.

2.  Logical-Mathematic Intelligence: berkaitan dengan pemecahan masalah   logika, hitungan dan menemukan pembuktian.

3. Spatial Intelligence: lebih mudah belajar secara visual, berkaitan dengan kemampuan mengenali orientasi dalam suatu ruang (kiri-kanan, atas-bawah, jauh-dekat, bentuk tiga dimensi), dan berpindah dari lokasi satu ke lokasi lain.

4. Musical Intelligence: berkaitan dengan bermain musik, membuat, bernyanyi dan mengarahkan musik. Kecerdasan ini tidak hanya dimiliki oleh seorang musikus, tapi juga oleh seorang ahli jantung dan ahli mekanik mobil yang mampu mendiagnosa dengan dasar mendengarkan pola suara.

5. Bodily-Kinaesthetic Intelligence: berkaitan dengan penggunaan bagian atau seluruh tubuh untuk unjuk kemampuan gerakan seperti penari, atlit dan ahli bedah.

  1. 6.   Intrapersonal Intelligence: berkaitan dengan pemahaman terhadap diri sendiri, tentang pemikirannya, tindakannya dan emosinya.

7. Interpersonal Intelligence: berkaitan dengan kemampuan memahami dan menjalin relasi dengan orang lain. Memiliki keterampilan sosial yang tinggi seperti yang seharusnya dimiliki oleh psikolog, guru, politikus. 

  1. 8.   Natural Intelligence: berkaitan dengan kamampuan untuk hal-hal yang terjadi di alam sekitar.

III. TEORI KEPRIBADIAN (CARL ROGERS)

PANDANGAN ROGERS TENTANG PERSON

Berdasarkan pengalaman Roger melakukan psikoterapi selama 30 tahun, ia menyimpulkan bahwa pada dasarnya manusia itu memiliki tujuan, bergerak ke depan, konstruktif, realistik dan dapat dipercaya. Ia menghargai manusia sebagai energi/kekuatan yang diarahkan pada pencapaian tujuan masa depan dan tujuan dirinya, dan bukan sebagai makhluk yang ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya. Bila potensi kebaikan manusia ini dapat berkembang, maka perkembangan yang optimal dan efektif akan tercapai. Disadari juga bahwa manusia terkadang memunculkan perasaan dan perilaku tidak baik, anti sosial dan abnormalitas, namun itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dengan demikian bila manusia dapat berfungsi penuh, bebas memiliki pengalaman yang sesuai hati nuraninya, dan merasa puas dengan diri sendiri, maka manusia akan menjadi positif dan dapat dipercaya untuk hidup harmonis dengan dirinya dan orang lain.

STRUKTUR KEPRIBADIAN MENURUT ROGERS

The Organism

merupakan tempat (locus) dari segala pengalaman, yang meliputi kesadaran tentang apa yang dialaminya pada suatu waktu tertentu.

The Self

Self merupakan representasi berbagai macam persepsi yang terorganisir, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Bila persepsi-persepsi yang terorganisir ini telah membentuk pola yang tetap, maka terbentuklah self-concept. Self-concept yang ingin dimiliki oleh individu dan memiliki makna yang tinggi bagi individu itu di sebut ideal self.

The Organism and Self: Congruence and Incongruence

Organism dan self berinteraksi satu sama lain, hasil interaksinya bisa congruence bisa juga incongruence. Congruence terjadi bila pengalaman yang benar-benar dialami oleh organisme sesuai dengan apa yang dipersepsi oleh self, kemudian akan membuat individu mampu menyesuaikan diri, matang dan berfungsi dengan optimal tanpa merasa terancam dan cemas. Individu itu akan dapat berpikir realistis. Incongruence terjadi bila pengalaman yang benar-benar dialamai oleh organisme tidak sesuai dengan apa yang dipersepsi oleh self, kemudian akan membuat individu merasa terancam dan cemas, serta berperilaku difensif dan berpikir sempit dan kaku.

PROCESS PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Menurut Roger, organisme memiliki satu tendensi dan perjuangan dasar yaitu untuk mengaktualisasikan diri, memelihara, dan meningkatkan pengalaman hidupnya. Aktualisasi diri membuat organisme tumbuh dan berkembang dari hal yang sederhana kearah kompleks, dari tergantung kearah mandiri, dari kaku dan tetap kearah perubahan dan kebebasan berekspresi.  Dalam proses mencapai aktualisasi diri, individu membutuhkan positive regard yang berupa kehangatan, penerimaan, penghargaan, simpati, kasih sayang dan cinta dari orang lain. Bila orang tua mampu memberikan unconditional positive regard, anak akan mengembangkan self regard dan terbentuklah kongruensi antara penilaian dirinya dengan pangalaman yang dialaminya. Contohnya bila orang tua memberi penghargaan dan rasa kasih sayang tanpa syarat tertentu, maka anak juga akan menghargai dirinya tanpa syarat. Hal ini membuat anak lebih mampu menyesuaikan diri dan berfungsi optimal, serta memiliki self-concept yang positif. Penilaian anak tentang dirinya, self concept dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu reflected appraisal (penghargaan orang lain tentang dirinya), degree of acceptance (seberapa besar penerimaan orang lain), permisiveness and punishment (memberi anak kebebasan yang terkontrol, atau hukuman).

RESENSI FILM

GARIS BESAR ISI FILM ‘LITTLE MAN TATE’

–          SILSILAH KELUARGA DAN KONDISI KELUARGA

Seorang anak terlahir sebagai anak dari seorang ibu dengan proses kehamilan melalui insemnia, sehingga ayah biologisnya tidak diketahui dan tidak dikenal anak selama kehidupannya. Ibunya (Dede) memberi nama anaknya Freddy Tate, dengan panggilan Fred. Ibu Fred adalah seorang pramusaji di sebuah kafe menyadari anaknya memiliki kelebihan secara intelektual dan seni dan memberikan dukungan untuk mengembangkan potensi keberbakatannya, tetapi ia juga merasa khawatir dengan keberbakatnnya itu, takut anaknya kehilangan masa kanak-kanaknya. Maka sisi lain,  Dede tetap memperlakukannya sebagai seorang anak kecil yang sama dengan anak-anak seusianya. Dengan demikian ibunya tidak menuntut anaknya mencapai prestasi intelektual tertentu, meskipun anak mampu melakukannya. Perlakuan ibunya lebih bersifat afektif, selalu siap memberikan dukungan emosional terhadap anaknya apalagi pada saat-saat sulit seperti mengalami tekanan karena kurang penerimaan dari teman sebayanya atau mengalami mimpi buruk. Sebagai ibu, Dede bukanlah seorang yang tahu banyak tentang keberbakatan, tetapi dia selalu berusaha memahami apa yang menjadi kebutuhan anaknya sebagai seorang anak yang berbakat, walaupun dengan kekhawatiran. Ia juga berusaha selalu memberikan  perawatan yang dibutuhkan Fred untuk mengatasi penyakit pencernaan yang dideritanya.

–          PERKEMBANGAN KOGNITIF

Sejak usia sekitar 2 tahun Fred sudah mampu membaca tanpa diajari langsung (mampu membaca tulisan Koffer yang ada di balik sebuah piring), saat kelas 1 SD ia mampu menggambar orang dengan  memperhatikan konsep ruang dan terkesan hidup. Gurunya sempat menganggap terbelakang karena jarang menunjukkan perhatian pada pelajaran yang diberikan, tetapi ia mampu menangkap dan menjawab bila ditanya. Sampai akhirnya gurunya mulai menyadari akan keberbakatannya dan menyarankannya untuk lompat kelas. Bahkan ia masih bisa mengingat isi puisi yang dibaca temannya meski setelah beberapa bulan, padahal ia tidak folus kepada pelajaran. Dalam membuat puisi isi puisinya penuh makna dan sangat mendalam,  untuk anak seusianya. Ia juga selalu berpikir masalah-masalah yang sangat berat misal tentang ”keadaan bumi/dunia”.

Keberbakatan Fred tampak juga saat tes awal masuk sekolah Grierson, ia mampu menangkap makna lukisan Van Gogh, memainkan piano dengan terampil. Saat mengikuti Tour of The Mind (Odessey of Mind) ia dapat menghasilkan kreasi bentuk geometris 3 dimensi dengan cepat dari bahan pensil dan klip yang baru ditemukannya. Selain itu mampu melakukan perhitungan matematis yang rumit dengan sangat cepat dan akurat. Pada musim panas, ia mengikuti kuliah Fisika Quantum yang merupakan mata kuliah yang sangat sulit meskipun untuk ukuran mahasiswa.

–          PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL

Dengan keberbakatannya, Fred menjadi berbeda dengan anak-anak lain di kelasnya dan di sekitar rumahnya. Ia kurang mendapat penerimaan dari teman sebayanya, dan sering menyendiri. Menjelang hari ulang tahunnya, ia mengundang teman-temannya untuk datang ke pesta ulangtahunnya, namun teman-temannya tidak menghargai undangannya dan tak satupun yang datang, hal ini membuat Fred kecewa.  Kondisi ini sering memunculkan kondisi emosi yang tidak nyaman, tidak bahagia karena kesepian tidak punya teman.

–          BERGABUNG BERSAMA YAYASAN PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT

Fred perama kali diketahui berbakat oleh tim yayasan pendidikan anak berbakat yang mencari anak berbakat untuk direkrut. Namun ibunya tidak menyetujui anaknya untuk dilakukan tes/pemeriksaan keberbakatan. Tetapi kemudian Fred bersikeras menginginkan untuk bergabung dengan yayasan tersebut, dan kemudian ibunya terpaksa melepas Fred dengan berat hati untuk mengikuti darmawisata (odessey of mind).  Fred tampak sangat menikmati sekali kegiatan ini karena berada dalam lingkungan yang sesuai dengan keberbakatannya.  Kegiatan ini sangat berkesan mendalam sehingga Fred menginginkan untuk mengikuti tawaran kuliah musim panas bersama Jane, salah satu pengurus (pemilik) yayasan anak berbakat yang sekaligus juga adalah seorang berbakat juga dan bekerja sebagai dosen. Pada saat perkuliahan Fred mampu mengikuti pelajaran Fisika Quantum yang sangat sulit bagi kebanyakan mahasiswa. Ia juga mengikuti stimulasi kognitif yang diberikan oleh Jane dengan baik. Semua stimulus kognitif yang ia terima mampu Fred olah dengan sangat baik. Namun dalam relasi sosial dengan lingkungan mahasiswa ia kembali menghadapi kesulitan untuk bisa diterima, membuatnya kesepian dan sangat membutuhkan teman. Pada suatu saat seorang mahasiswa mengajaknya bermain hampir setengah hari, ia menganggapnya teman baik yang bisa menerimanya dan bisa selalu diajaknya bermain. Tetapi kenyataannya temannya tidaklah menghendaki Fred sebagai teman mainnya selalu, karena Fred bukanlah teman sebaya. Kenyataan ini membuat Fred sangat  terpukul, sehingga tak dapat berkonsentrasi untuk mengerjakan ujian Fisika Quantum. Masalah lain adalah saat bermimpi buruk, ia membutuhkan seseorang untuk menenangkan seperti yang biasa dilakukan ibunya. Namun Jane bersikap tidak seperti ibunya, ia hanya meminta Fred untuk minum air putih dan kembali tidur. Hal ini tidak menenangkan Fred, ia merasa kecewa dan tambah kecewa pada saat berusaha menghubungi ibunya lewat telepon tetapi gagal. Perasaan kecewa, kurang ada senyuhan secara afeksi selama tinggal dengan Jane keadaan ini membuatnya terganggu secara emosional, dan membuatnya tidak dapat menampilkan potensi keberbakatannya pada saat acara penting di TV. Justru ia tampak senang ketika melihat anak seusianya main-main dengan kursi dan Fred mengikuti perilaku anak seusianya tersebut dengan gembira. Tetapi pada saat tampil di TV Fred nampak ia tidak merasa senang, ia tidak bangga dengan keberbakatannya , sehingga Fred tidak menampilkan potensi keberbakatannya dengan baik ia hanya menampilkan kemampuannya dalam puisi, dengan membacakan sebuah puisi, puisi yang pernah dibacakan oleh teman sekelasnya, teman teman yang dikagumi Fred karena temannya sangat diterima di lingkungan sekolah, bisa menjadi kapten basket. Keadaan emosi Fred  yang galau sampai pada situasi yang membuat Fred sedih, kecewa, marah, merasa tidak bahagia yang pada akhirnya pada saat ia tampil di TV sebagai anak berbakat Fred melarikan diri dari acara TV untuk pulang sendiri ke rumahnya. Sampai di rumah ia meluapkan amarahnya dengan merusak benda-benda, tetapi pertemuan dengan ibunya mampu membuat Fred merasa tenang dan nyaman.

DINAMIKA PSIKOLOGIS FRED

Fred adalah seorang anak yang dibesarkan oleh seorang ibu yang menunjukkan unconditional positive regard (UPR) berupa penerimaan, kehangatan, penghargaan dan kasih sayang yang dibutuhkan oleh Fred. Meskipun tanpa figure ayah, Fred tetap merasakan kehidupan yang cukup harmonis dengan ibunya. Sehingga ia dapat menangkap dan merespon stimulus afeksi dari lingkungan, meskipun ia kurang mampu meresponnya dengan ekspresif. Dalam hal relasi sosial ia lebih banyak bersikap pasif, menunggu orang lain memulai lebih dulu. Di sisi lain, sebagai seorang anak ia tetap membutuhkan teman untuk bergaul dan bermain sesuai usianya.  Fred pada dasarnya menyadari bahwa ia memiliki potensi kecerdasan yang luar biasa, dan ia berusaha untuk mengaktualisasikan potensinya ini. Hal ini juga didukung oleh ibunya, yang berusaha menemani dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan anaknya. Hanya saja ibunya tidak merasa perlu untuk menyalurkan potensi keberbakatan yang dimiliki Fred, karena khawatir Fred akan kehilangan masa kanak-kanaknya.

Padahal Fred  seorang anak yang terlahir dengan potensi kecerdasan yang sangat tinggi. Dengan kemampuan kecerdasan yang berkembang menonjol pada bidang:

  • Inteligensi spasial (Spatial Intelligence), Fred mampu membuat bentuk geometris dengan cepat tanpa ada contoh atau arahan, serta membuat lukisan orang dengan perspektif 3 dimensi yang tampak ”hidup”. Ia juga dengan tajam dapat menangkap makna dan esensi dari lukisan Van Gogh.
  • Inteligensi bahasa (Linguistic Intelligence), ia mampu memahami isi bacaan dengan cepat meskipun berisi konsep-konsep yang abstrak dan rumit, serta menyimak berita yang dia dengar, membuat puisi.
  • Inteligensi logis-matematis (Logical-Mathematical Intelligence), ia mampu menyelesaikan persoalan hitungan yang sangat rumit sekalipun dalam waktu yang sangat cepat
  • Intelegensi kinestetis (Bodily-Kinesthetic Intelligence), ia mampu memainkan jemarinya dengan lincah untuk membuat alunan musik yang harmonis secara otodidak. Selain itu ia dapat mengikuti irama musik untuk menari.
  • Inteligensi Musik (Musical Intelligence), ia mampu memahami irama musik dan mengkomunikasikannya kembali melalui permainan piano.

Sedangkan kecerdasan yang kurang menonjol ádalah Inteligensi antar personal (Interpersonal Intelligence). Ia mengalami kesulitan untuk  berhubungan dan memahami orang lain di luar dirinya, sehingga ia tidak dapat menjalin relasi sosial yang baik dengan teman sebayanya. Hal ini terjadi karena kecerdasan yang dimilikinya jauh di atas teman sebayanya, membuat pola pikirnya sangat berbeda jauh dengan teman-teman sebayanya. Teman sebayanya menganggap Fred sebagai anak yang aneh dan sehingga cenderung menolaknya dalam sosialisasi. Kondisi ini memunculkan incongruence, yang mana Fred mempersepsi tentang dirinya sebagai orang yang cerdas pada beberapa bidang tetapi tidak mendapat penilaian dan pengakuan yang sama dari lingkungannya, terutama dalam kelompok teman sebayanya. Hal ini menjadikan Fred merasa tidak nyaman, cemas, dan tidak puas serta kurang optimal dalam memfungsikan potensinya (prestasi belajar di sekolah rendah, sering mimpi buruk). Terbentuklah self-concept negative bahwa ia kurang mampu bergaul dengan temannya. Padahal ia memiliki ideal self yang tidak hanya menonjol secara intelektual tapi juga secara sosial. Di sekolah ia juga tidak mendapat enrichment yang dibutuhkannya, sehingga ia mengalami kebosanan dan tidak serius mengikuti pelajaran. Kebutuhan Fred untuk mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk menyalurkan keberbakatannya menjadi sangat besar.

Fred menemukan lingkungan yang kondusif untuk perkembangan kecerdasannya saat bergabung dengan kelompok anak berbakat di Institut Greison. Ia merasa dapat menyesuaikan diri dan berinteraksi secara aktif. Bahkan ia merasa menemukan dunia yang pas untuk aktualisasi keberbakatannya pada saat Jane memberikan stimulasi keberbakatannya.

Namun Fred juga mengalami masalah-masalah secara emosional (seperti kecewa karena temannya tidak lagi mengajaknya bermain, ketakutan dan kekhawatiran karena mimpi buruk), keadaan tersebut menjadikan ia, tertekan, marah  juga tidak optimal secara intelektual. Ia membutuhkan dukungan emosional dan sentuhan afeksi yang menentramkannya.  Sayangnya ia tidak mendapatkan sentuhan afeksi yang dibutuhkannya dari Jane, karena Jane hanya memberikan stimulasi kognitif, , sehingga ia kembali ke pangkuan ibunya dimana ia selalu diperlakukan sesuai dengan perkembangan usianya, dengan sentuhan afeksi yang mendalam. Sebagai seorang anak berbakat, Fred tetap membutuhkan stimulasi yang seimbang antara kognitif/intelektual, emosi dan sosial. Stimulasi yang hanya menekankan aspek intelektual, atau hanya menekankan aspek emosional membuatnya tidak merasakan ideal selfnya terakualisasikan. Ia membutuhkan penanganan yang memberikan stimulasi seimbang antara intelektual, emosi dan sosial sehingga ia dapat berkembang secara menyeluruh dan mencapai rasa aman dan nyaman untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA

Hal ini terjadi karena perkembangan kognisi Fred yang sangat cepat meninggalkan kemampuan kognisi teman sebayanya, yang menghambat Fred untuk dapat berbagi pemikiran dan berkomunikasi tentang dunia anak umumnya. Di sisi lain perkembangan emosi dan sosial yang dialami Fred tidak berbeda dengan teman sebayanya, ia memiliki kebutuhan untuk diterima dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Tetapi kebutuhan ini tidak terpenuhi, membuatnya merasa kesepian dan cenderung menarik diri. Ia kurang merasa percaya (mistrust) pada lingkungan sosialnya karena seringkali ditolak oleh teman sebayanya. Kemampuan sosialisasi yang dimilikinya kurang berkembang, dan membuatnya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

 

            Ia seakan mendapat kesempatan emas untuk memenuhi kebutuhannya mengaktualisasikan diri pada saat Jean mengajaknya untuk bergabung dengan anak berbakat lainnya, serta mengikuti summer course. Untuk sementara ia tampak lebih puas berada di tengah anak berbakat dan bergaul dengan mereka.  dengan sesama

 

Keterbatasan ibunya ini membuat Fred haus akan stimulasi dan sangat ingin mengikuti tour dan sekolah seperti yang ditawarkan oleh Jean.   

 

Namun kecerdasan yang tinggi, membuatnya memiliki kebutuhan yang besar untuk mendapat stimulasi intelektual yang tidak dapat diberikan oleh ibunya. Selain itu kecerdasan yang tinggi juga, membuat pola pikirnya berbeda dengan teman-teman sebayanya dan menghambatnya untuk dapat masuk dan diterima oleh mereka. Kondisi ini memunculkan incongruence, yang mana Fred mempersepsi tentang dirinya sebagai orang yang cerdas pada beberapa bidang tetapi tidak mendapat penilaian dan pengakuan yang sama dari lingkungannya. Terutama dalam kelompok teman sebayanya. Hal ini menjadikan Fred merasa tidak nyaman, cemas. Fred menyadari bahwa dirinya memiliki Kemampuan intelektual yang berbeda dengan kelompok usianya, ia berusaha untuk menampilkan kemampuannya tersebut dan ia memperoleh dukungan dari orang lain (Jane) akan tetapi dalam proses mengaktualisasikan dirinya ia mendapatkan   

Ia mampu membaca tanpa diajari, mampu menyelesaikan hitungan dengan cepat dan akurat serta mampu mengapresiasi seni dengan tajam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

3,363 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>