Teori Psikologi Pendidikan

gadis cantik di sekolah

Psikologi Pendidikan

 

  1. I.        Teori Koneksionisme Menurut Thorndike

Dalam proses belajar ada hubungan stimulus dan respons. Namun harus ada kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaab-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu.

Untuk melakukan seleksi ada beberapa hukum belajar dari Thorndike:

  1. Hukum kesiapan (The Law of Readiness) yang rumusnya antara lain:

–          Jika sudah siap melakukan suatu tingkah laku maka ada kepuasan

Contoh orang yang sudah belajar untuk ujian maka di asnagat puas bila ujian tersebut berlangsung. Dia akan tenag bekerja dan tidak menyontek.

–          Bila sudah siap melakukan tingkah laku dan tidak melaksanakan tingkah laku tersebut maka akan menimbulkan kekecewaan.

Contoh jika seseorang sudah benar-benar siap untuk ujian dan ujian tidak dilaksanakan / diundur, maka ia sangat kecewa. Untuk mengurangi k kekecewaan, dia membuat gaduh dan protes.

–          Jika seseorang belum siap lakukan sesuatu tingkah laku tetapi dia harus melakukannya, maka akan menimbulkan ketidak puasan dan dia akan melakukan tingkah laku lain untuk menghalanginya.

Contoh: siswa yang tiba-tiba diberi tes / ulangan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya maka akan ada protes pembatalan.

  1. 2.      Hukum latihan (The law of experience)

Hukum ini dibagi 2 hukum penggunaan (the law of use) dan hukum tidak ada penggunaan (the law of disuse)

Untuk the law of use dilakukan dengan latihan berulang-ulang hubungan stimulus dan respons makin kuat.

The law of disuse dinyatakan, hubungan antara stimulus dan respon melemah bila latihan, latihan dihentikan. Jadi makin sering sesuatu pelajaran diulangi. Pelajaran tersebut semakin dikuasai oleh anak.

  1. 3.      Hukum akibat (the law of effect)

Hubungan stimulus respons diperkuat jika akibatnya memuaskan dan diperlemah bila akibatnya tidak memuaskan.

Contoh, sisiwa yang nyontek diberi nilai A maka pada kesempatan lain akan  memnyontek lagi.

Dalam pembelajaran menurut Thorndike

–          Guru harus merumuskan tujuan pembelajaran dengan jelas

–          Materi pendidikan yang diberikan kepada siswa harus ada manfaatnya untuk kehidupan kelak keluar dari sekolah

–          Pelajaran yang diberikan tidak boleh melebihi kemampuan anak

 

  1. II.     Classical Conditioning Ivan Pavlov

Suatu bentuk belajar yang memungkinkan organisme memberikan respon terhadap suatu rangsang yangs ebelumnya tidak menimbulkan respon. Atau suatu proses untuk menintroduksi berbagai refleks menjadi sebuah tingkah laku. Jadi Classical conditioning sebagai pembentuk tingkah laku melalui proses persyaratan (conditioning process).

Di samping itu Pavlov beranggapan bahwa tingkah laku organisme dapat dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi lingkungan.

Untuk membuktikan teori Pavlov, dia mengadakan eksperimen terhadap anjing:

  1. Anjing dibiarkan lapar setelah bel dibunyikan, anjing benar-benar mendengarkan bunyi bel tersebut. Setelah bel berbunyi 30 detik, makanan diberikan, maka terjadilah refleks pengeluaran air liur.
  2. Percobaan dilakukan berulang-ulang dengan jarak waktu 15 menit
  3. Setelah diulangi 32 kali, ternyata bunyi bel saja telah keluar air liur dan air liur bertambah deras kalau makanan diberikan. Makanan sebagai pembuatan yang disebut reinformen yang disingkat R1.
  4. Berdasarkan eksperimen tersebut bel merupakan CS, makanana merupakan US, kelenjar air liur karena bel disebut CR.

 

  1. III.  Teori Operant Conditioning oleh Skiner

Skiner membedakan tingkah laku menjadi 2:

  1. Tingkah laku operan
  2. Tingkah laku responden

–          Tingkah laku operan, tingkah laku yang ditimbulkan oelh stimulus yang jelas

–          Tingkah laku operan, tingkah laku yang ditimbulkan oleh stimulus yang belum diketahui semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri.

Dalam proses pendidikan hadiah diberikan kadang-kadang jika perlu ada penampilan perilaku yang baik diberi hadiah (penguatan positif), ada penampilan perilaku yang baik diberi hukuman misalnya mengalihkan perhatian (pembuatan negatif)

Jadi hadiah diberikan kadang-kadang supaya ada perimbangan antara efek hadiah dan hukuman dalam perubahan tingkah laku.

Penerapan teori Skiner dalam proses pendidikan

  1. Bahan yang dipelajari dianalisis secara sistematis
  2. Hasil belajar diberitahukan, jangan ditunda, harus emmberi feed back. Jika saka dibetulkan, jika betul diberi reinforcement
  3. Pengarahan dalam mencapai tujuan sangat penting
  4. Dalam proses belajar mengajar dipentingkan aktivitas sendiri.

 

  1. IV.  Teori Behaviorisme

Tokoh utama aliran in ialah J.B. Watson

Menurut Watson:

Sebagai science, psikologi harus bersifat positif sehingga obyeknya bukanlah kesadaran dan hal-hal yang dapat dilihat melainkan tingkah laku.

Metode yang digunakan dalam meliohat tingkah laku adalah obesrvasi.

Teori ini terbagi atas beberapa bagian yang penting.

 

  1. a.      Teori  Sarbon (stimulus and response theory)

Menurut teori ini, tingkah laku yang kompleks dapat dianalisis menjadi rangkaian unit perangsang dan reaksi (stimulus and response) yang disebut refleks.

  • Stimulus adalah situasi objektif yang wujudnya bermacam-macam. Misalnya rumah terbakar, kereta sesak dan sebagainya.
  • Respon adalah rekasi obyektif daripada individu terhadap situasi sebagai perangksang yang wujudnya bermacam-macam misalnya; refleks pattela, memukul bola, mengambil makanan, menutup pintu dan sebagainya.

Jadi tujuan dari psikologi menurut Watson adalah;

Menetapkan data-data dan hukum-hukum sedemikian rupa, sehingga kalau kita tahu perangsang dapat meramalkan respon-respon dans ebaliknya kalau tahu responnya dapat mencapai perangsang yang mengakibatkannya.

  1. b.      Pengamatan dan kesan (sensation and perception)

Menurut Wtason dalam menghadapi manusia harus membuat stimulus dan respons)

  1. c.       Perasaan tingkah laku efektif

Di sini Watson berusaha untuk melihat perilaku emosional manusia (dalam arti yang dapat dialami) yaitu reaksi emosional:

–          takut

–          marah

–          cinta

Dan dapat disimpulkan menurut Watson bahw areaksi emosional dapat ditimbulkan dengan persyaratan (conditioning) dan rekasi emosional bersyarat itu dapat dihilngkan dengan persyaratan kembali (reconditioning). Prosesnya sama dengan Palpov.

  1. Dalam proses perkembangan ada pengaruh lingkungan (pendiidkan, belajar, pengalaman) menurut Watson rekasi-rekasi kodrati yang dibawa sejak lahir itu sedikit sekali. Perekmbangan terbentuk karena latihan dan belajar.

 

  1. V.     Teori Gestalt menurut Koffka

Belajar pada pokoknya yang penting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapat respons yang tepat. Karena penemuan respons yang tepat tergantung pada structure dari pada bahan yang tersedia di depan si pelajar. Maka mudah atau sukarnya problem terutama adalah masalah pengamatan. Karena jika seseorang bisa melihat situasi dengan tepat maka akan memperoleh ”pencerahan” dan dapat memecahkan problem yang dihadapi.

Teori kognitif Jean Piaget

Proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dibagi menjadi tahap sensorimotor, prapoperaional, operasional kongkret dan operasional formal.

Proses belajar bagi anak yang berada pada tahap sensorimotor berbeda dengan operasional kongkrit dan selanjutnya berbeda juga dengan operasional formal.

Jadi guru dalam proses belajar pembelajaran penyajian materi harus disesuaikan dengan tahapan tadi.

Jika materi yang disajikan tidak sesuai dengan tahapan tadi akan emnyulitkan anak untuk memahaminya.

Contoh mislanya anak yang berada pada tahap operasional kongkrit. Guru mengajar dengan menggunakan konsep-konsep abstrak tanpa ada usaha untuk ”mengongkretkan” konsp-konsep tersebut akan membingungkan siswa.

 

Ausebel

Menurut Ausebel siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut ”pengatur kemajuan (belajar)” (Advance Organizers) didefinisikan dengan baik dan tepat bagi mahasiswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.

Menurut ausebel ”advance organizers” dapat memberikan tiga macam manfaat yakni:

  1. Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa.
  2. Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sementara dipelajari siswa ”saat ini” dengan apa yang ”akan” dieplajari sedemikian rupasehingga membantu siswa memahami bahan belajar dengan lebih mudah.

 

Burner

Teorinya disebut free discovery learning.

Menurut teori ini proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu teori, konsep definisi dan sebagainya.

Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum.

Contoh: untuk siswa memahami konsep tentang ”kejujuran” siswa tidak semata-mata ”menghafal”, definisi kata ”kejujuran” tersebut, melainkan dengan memplajari contoh-contoh kongrit tentang kejujuran.

Lawan dari pendekatan ini disebut ”belajar ekspositiory” (belajar dengan cara menjelaskan). Dalma hal ini siswa disodori sebuah informasi umum dan diminta untuk menjelaskan informasi tersebut melalui contoh-contoh khusus yang kongkrit.

Contoh: untuk masalah di atas mahasiswa pertama-tama diberi definisi tentang ”kejujuran” dan dai definisi itulah mahasiswa diminta untuk mencari contoh.

 

Teori Humanime Menurut Bloom Dan Kartwohl

Menurut Bloom dan Kartwohl pelajaran harus dapat disesuaikan dengan apa yang mencakup tiga kawasan yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

  1. Kognitif yang terdiri dari 6 tingkatan

–          Pengetahuan (mengingat, menghafal)

–          Pemahaman (menginterpretasikan)

–          Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)

–          Analisis (menjabarkan konsep)

–          Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi satu konsep utuh)

–          Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dan sebagainya)

  1. Afektif terdiri dari 5 tingkatan

–          Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)

–          Mersepon (aktif berpartisipasi)

–          Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tersebut)

–          Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai yang dipercayai

–          Pengamatan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup.

  1. Psikomotor yang terdiri dari 5 tingkatan

–          Peniruan (menirukan gerak)

–          Penggunaan (menggunakan kosnep untuk melakukan gerak)

–          Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)

–          Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)

–          Naturalisasi (melakukan gerak secara wajara.

Taksonomi Bloom, seperti yang kit aketahui berhasil memberi inspirasi kepda banyak pakar lain untuk mengembangkan belajar dan pembelajaran.

 

DAFTAR PUSTAKA

Hurlock B. Elizabeth. Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta, 1992

Suryabrata Sumadi. Psikologi Pendidikan.  Raja Grafindo Persada. Jakarta Tahun 2004.

Wingkellll W.S. Psikologi Pelajaran. Gramedia Jakarta 1987.

Isi Komentar