Review buku Psikologi Umum; Dalam Lintas Sejarah, karya Drs. Alex Sobur, M.Si

psikologi umum

psikologi umum

[Tulisan ini merupakan bentuk review buku dari karya Drs. Alex Sobur, M.Si.; Psikologi Umum; Dalam Lintas Sejarah; diterbitkan oleh Pustaka Setiap Bandung tahun 2003]

 

Ternyata, apa yang dikatakan Rita L. Atkinson, memang ada benarnya. Psikolog dari Universitas California ini bilang, tidak ada orang pada masa kini yang dapat mengaku tidak mengenal psikologi; psikologi, bagaimana pun, telah menyentuh semua aspek kehidupan Anda. Contoh gampangnya, bagaimana cara dosen mengajar sewaktu Anda menjadi mahasiswa, mempengaruhi cara Anda mengajar mahasiswa-mahasiswa Anda sekarang, atau, bagaimana cara orang tua mengasuh Anda, mempengaruhi cara Anda mengasuh anak-anak Anda sendiri, kini, atau pun nanti.

Karena psikologi mempengaruhi begitu banyak aspek kehidupan kita, penting juga kirannya bagi mereka yang tidak bermaksud memperdalam diri dalam disiplin ilmu ini sekadar mengetahui fakta-fakta dasarnya. Pelajaran psikologi dapat memberikan pengertian yang lebih baik tentang sebab-sebab mangapa, misalnya, orang berpikir dan bertindak seperti yang mereka lakukan, dan memberikan pandangan untuk menilai sikap dan reaksi yang Anda lakukan sendiri.

Singkatnya, psikologi penting bagi mereka yang dalam kehidupannya selalu berhubungan dan bersama orang lain. Psikologi dibutuhkan atau dipelajari oleh mereka, yang dalam tugas dan jabatannya akan bekerja bersama orang lain. Itulah inti kegunaan psikologi.

Kegunaan kini justru dianggap penting. Belum pernah dalam sejarah kegunaan begitu diutamakan seperti era kita sekarang. “Berguna” sering disamakan dengan “bernilai” begitu saja. Tendensi ini, meminjam ungkapan Bertens (1993), dapat disebut utilitarisme. Sikap utilitaristis ini merupakan suatu sikap modern yang khas. Dalam masyarakat tradisional dahulu, sikap ini tidak dikenal; atau kalaupun dikenal, hanya kebetulan dan insindental; bukan sistematis dan menyeluruh. Utilitarisme menekankan hubungan antara “means” dan “end”, antara sarana dan tujuan. Kita harus mempergunakan sarana tertentu, jika ingin mencapai suatu tujuan.

Agaknya, dalam pokok bahasan nanti, Anda dipaksa atau terpaksa untuk “mengakrabi” soal jiwa dan badan, atau hal-hal yang berkaitan dengan kerohanian dan kejasmanian. Pertanyaan konkret mengenai hubungan kejasmanian dan kerohanian saja sudah memperlihatkan kebingungan dengan masalah, apakah mesti dirumuskan sebagai soal “badan dan jiwa”, ataukah sebagai masalah body and mind (Campbell, 1984)? Ataukah lebih baik hubungan the self and its brain (Popper & Eccles, 1977)? Atau mungkin hubungan man and beast (Midgley, 1980)? Apakah badan itu sama dengan kepriaan-wanitaan (Maas, 1979)?

Andaikan selama ini Anda menyebut “ilmu jiwa” untuk memakai kata “psikologi”, yang harus saya katakan awal-awal adalah, betapa sukarnya mengenal jiwa manusia karena sifatnya yang abstrak. Wajarlah jiwa Thomas Alva Edison berkata “My mind is incapable of cenceiving such a thing as a soul”. Pikiran saya tidak mampu untuk memahami hal seperti jiwa. Meskipun begitu, satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah mengobservasikan perilakunya, walaupun perilaku tidak merupakan pencerminan jiwa secara keseluruhan.

Begitulah, bab pertama buku ini dengan pertanyaan tentang untuk apa kita belajar psikologi, karena saya yakin bahwa pengetahuan psikologi tidak hanya penting bagi para mahasiswa psikologi, tetapi penting diketahui semua orang. Karena itu, pada bagian pertama pula saya coba jelaskan keterkaitan antara psikologi dan ilmu-ilmu lain.

Bab kedua, menyangkut pembahasan ihwal sejarah perkembangan psikologi, sejak ilmu ini masih merupakan bagian dari filsafat, sampai menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Bab tersebut juga mencoba mengidentifikasi berbagai aliran psikologi yang muncul, mulai dari aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme, yang dimotori Wilhem Wundt pada pertengahan abad ke-19, sampai aliran behaviorisme, sebuah aliran yang didirikan oleh John B. Watson, pada tahun 1913, dan kemudian digerakkan oleh Skinner.

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan pokok bahasan bab ketiga. Tema ini pada intinya ingin menjelaskan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan individu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pada bab 4 dijelaskan tentang apa yang diartikan sebagai inteligensi atau kecerdasan. Uraian pada bab ini mencoba mengidentifikasi, misalnya, apakah perilaku tertentu itu tergolong perilaku pandai atau tidak pandai? Ternyata, kemudian timbul kesulitan karena kita secara salah menganggap bahwa kecerdasan atau inteligensi merupakan suatu “benda”. Pada bab ini juga disinggung mengenai bakat: apakah sebetulnya yang diartikan dengan istilah “bakat” (Aptitude)? Apa bedanya dengan “kemampuan” (Ability) dan “kapasitas” (capacity)? Apa pula bedanya dengan “prestasi” (achievement)? Kemudian juga dijelaskan mengenai “apakah bakat itu?” serta ciri-ciri anak berbakat.

Dua bab berikutnya (bab 5 & 6) mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan teori-teori berpikir dan belajar. Ini saya anggap penting sebab berpikir juga mencakup banyak aktivitas mental. Adapun belajar demikian kompleksnya, sehingga apabila orang menganggap beberapa macam perilaku yang berbeda sebagai belajar, tampak bahwa pendefinisian belajar menjadi sangat kabur, karena di dalamnya tercakup semua perilaku tersebut.

Soal motivasi dibahas di bab 7. psikologi mengajukan pertanyaan tentang motivasi, karena psikologi ingin mengerti gejala-gejala psikis yang menjadi objek ilmu jiwa ini. Bab 8 menjelaskan ihwal kepribadian. “Kepribadian” itu, ibarat tenaga listrik, secara samar-samar kita tahu apa artinya namun apabila hendak memaparkan seluruh maknanya, kita seolah kehilangan akal. Ini pula yang menyebabkan demikian banyak definisi mengenai kepribadian; sampai-sampai Allport, dalam sebuah bukunya, mendaftarkan tidak kurang dari lima puluh definisi kepribadian yang berbeda.

Tiga bab berikutnya, masing-masing membahas tentang sikap dan prasangka (bab 9), emaosi (bab 10), dan persepsi (bab 11). Apakah sikap Anda terhadap tersedianya senjata api untuk masyarakat umum? Itulah salah satu contoh pertanyaan yang diajukan seorang ahli psikologi dalam menjelaskan tentang hakikat sikap. Dari contoh pertanyaan ini saja, orang biasanya memberikan jawaban yang variatif: pendapat, keyakinan, perasaan, resep (preferensi tingkah laku atau tujuan tingkah laku, pernyataan fakta, dan pernyataan mengenai tingkah laku mereka sendiri. Mereka memberikan tanggapan yang sangat kognitif dan afektif. Prasangka itu sendiri, oleh para ahli psikologi, diartikan sebagai suatu istilah yang menunjuk pada sikap yang tidak menyenangkan (unfavourable attitude) yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok terhadap kelompok lain berikut anggota-anggotanya, yang didasarkan atas norma-norma yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang di luar kelompoknya.

Dlam hal emosi, para ahli mengemukakan beberapa teori. Salah satu teori menyebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologis. Teori lain berpendapat bahwa karena gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untu mengatasi keadaan genting, orang-orang primitif yang membuat respons semacam itu bisa survive dalam perjuangan hidupnya. Lalu, dari mana emosi timbul? Dari pikiran atau dari tubuh? Agaknya, tak seorang pun yang bisa menjawabnya dengan pasti.

Selanjutnya, berkaitan dengan soal “persepsi” maka inilah sesungguhnya yang merupakan sumber pengetahuan kita tentang dunai. Dalam hubungan ini, ekspresi mengenal orang lain merupakan studi awal tentang persepsi.

Dan, konsep diri, dan penyesuaian diri merupakan pokok bahawan penutup dalma buku ini. Kita semua ingin mengenal diri sendiri secara lebih baik, karena kita mengendalikan pikiran dan perilaku sebagian besar sampai batas memahami diri sendiri-sebatas menyadari siapa kita.

Begitulah gambaran singkat tentang buku ini. Meskipun buku yang tengah Anda baca ini merupakan hasil sebuah pergulatan yang sangat panjang dan melelahkan, saya belum merasa begitu puas karena masih demikian banyak hal-hal yang tidak kita ketahui tentang jiwa manusia beserta segenap perilaku yang menyertainya.

Isi Komentar